Harga Bibit Melambung, Petani Jagung Bingung

Harga Bibit Melambung, Petani Jagung Bingung

Jatinangorku.com – Sejumlah petani jagung di wilayah barat Sumedang, terutama di Kec. Jatinangor, Sukasari, dan Kec. Tanjungsari bingung sekaligus mengeluhkan melambungnya harga bibit jagung. Tidak hanya itu, selain harga mahal, para petani pun kesulitan mendapatkan bibit yang berkualitas bagus.

Hal tersebut diungkapkan Arifin (37), petani jagung asal Desa Cilayung, Kec. Jatinangor. Akibat harga bibit mahal, petani sulit mendapatkan bibit jagung unggul.

“Karena banyak bibit jagung kualitasnya jelek, hasil produksinya pun jelas merosot. Melihat kondisi itu, maka saya anggap wajar jika hasil produksi para petani jagung merosot,” katanya saat ditemui wartawan di Jatinangor, Kamis (12/9).

Dengan terpaksa, katanya, petani memanfaatkan bibit jagung merek “J” dengan alasan hanya jenis itu yang harganya murah, yakni Rp 60 ribu/ bungkus. Bibit jagung merek itu memang mudah diperoleh, namun hasil produksinya tidak memuaskan.

Penggunaan bibit itu, kata Arifin, selain berisiko gagal panen, harga jualnya pun dipastikan murah, sekitar Rp 2.000/kg. “Bibit yang bagus yakni merek ‘B’, namun jenis tersebut langka. Kendati ada, harganya cukup mahal, di kisaran Rp 90 ribu per bungkus,” ucap Arifin.

Hal senada dikatakan Ohim (44), warga Kec. Sukasari. Menurutnya, perbandingan penggunaan bibit murah dan mahal hasilnya cukup menonjol. “Terbukti, jika memakai bibit yang murah sebanyak 1 kg, hasilnya diperkirakan hanya 15 kuintal,” katanya.

Ia mengungkapkan, menggunakan bibit yang harganya mahal untuk pemakaian bibit sebanyak 1 kg dipastikan akan menghasilkan buah jagung sekitar 2,5 ton. “Harga jual jagung dari petani saat ini cukup murah, di kisaran Rp 2.500/ kg” katanya.

Air sungai menyusut

Sementara itu, musim kemarau membuat air di sejumlah sungai menyusut. Di antaranya Sungai Cikeruh, Cikijing, Cimande, dan Sungai Citarik. Bahkan Sungai Cikeruh dan Sungai Cikijing meski ada airnya, namun bercampur dengan limbah cair industri.

Pantauan “GM”, Kamis (12/9), menyusutnya air di sejumlah sungai di wilayah timur tersebut dikhawatirkan para petani di sejumlah desa di Rancaekek. Belum lagi sejumlah sumur gali milik penduduk sudah ada yang mulai kering kerontang.

“Kalau kemarau sebulan atau dua bulan lagi, sudah dibayangkan akan berdampak pada lahan pertanian. Selain padi yang telah ditanam akan gagal tanam, juga padi yang telah berbuah akan gagal panen,” kata Suhaya (45), petani Desa Linggar.

Sumber : http://klik-galamedia.com/