Iklan Dunkin di Thailand Dinilai Rasis

Iklan Dunkin di Thailand Dinilai Rasis

Jatinangorku.com – Beriklan tidak sekadar mengandalkan kreativitas. Hal yang lain yang perlu diperhatikan adalah sensitivitas terhadap audiensnya. Bila hal ini tidak diperhatikan, iklan itu bisa saja menuai protes dan berimbas secara kontraproduktif pada iklan itu sendiri.

Hal inilah yang belakangan terjadi pada iklan Dunkin Donuts di Thailand. Seperti ditulis oleh The AdAge Digital, sekelompok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Thailand mendesak Dunkin Donut agar menarik kembali iklannya yang dinilai aneh dan rasis. Iklan donut cokelat terbarunya menampilkan seorang perempuan yang tersenyum dengan bibir cerah warna merah jambu dalam riasan kulit serba hitam.

Waralaba Dunkin Donut di Thailand baru saja meluncurkan kampanye iklannya awal bulan Agustus untuk produk “Charcoal Donut.” Iklan ini menampilkan gambar yang mengingatkan sejarah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 dan mengusung stereotip orang-orang kulit hitam di Amerika yang sekarang dianggap sebagai simbol perlawanan melawan era rasis.

Dalam poster dan iklan TV komersialnya, iklan menampilkan sosok perempuan dengan kulit hitam mengkilap dengan gaya tantanan rambut era 1950-an dan memegang donut disertai slogan “Break every rule of deliciousness.”

Human Rights Watch menyatakan prihatin dengan kampanye iklan merek Amerika ternama itu dan khawatir hal itu bisa menyulut api kemarahan lebih besar bila diluncurkan di Amerika Serikat.

“Dunkin Donut harus segera menarik iklan yang aneh dan rasis tersebut serta meminta maaf ke publik dan memastikan hal ini tidak bakal terjadi lagi,” kata Phil Robertson, Wakil Direktur Human Rights Watch Asia.

Para CEO Dunkin Donut memberi tanggapan yang berbeda terhadap protes tersebut. Mereka seperti dikutip dari Associated Press mengatakan hal itu cerminan masih kentalnya pemikiran orang Amerika yang paranoid.

“Ini benar-benar konyol. Mengapa kami tidak diizinkan untuk menggunakan kulit hitam untuk mempromosikan donat kami? Saya tidak mengerti. Apa yang harus diributkan? Bagaimana bila produknya putih kemudian orangnya dicat putih, apakah itu juga tergolong rasis?” kata CEO Nadim Salhani.

Salhani menambahkan waralaba Dunkin Donuts di Thailand ini sudah beriperasi secara independen dan penjualan donatnya meningkat sekitar 50 persen sejak kampanye itu diluncurkan tiga minggu yang lalu.

“Tidak semua orang di dunia ini paranoide terhadap rasisme. Maafkan saya. Tapi, ini merupakan kampanye pemasaran dan ini bekerja dengan sangat baik bagi kami,” pungkas Salhani yang merupakan seorang ekspatriat asal Lebanon.

Sumber : http://the-marketeers.com