Karinding Tak Lagi Sekadar Musik Tradisional

Karinding Tak Lagi Sekadar Musik Tradisional

Jatinangorku.com – KARINDING adalah salah satu alat musik ritmis. Konon, alat musik dari bambu itu termasuk satu di antara yang tertua. Di Cianjur, karinding lambat-laun mulai bergairah dengan banyak terbentuknya komunitas pencinta alat musik tradisional itu.

Lantunan suara itu terdengar begitu halimpu. Datangnya dari sekelompok pemuda yang berkumpul dalam sebuah komunitas. Bukan seruling, bukan pula saksofon. Yang jelas, suara itu berasal dari sebuah alat musik berbahan dasar bambu.

Ya , alat musik itu adalah karinding. Suara itu berasal dari sekelompok pemuda yang asyik memainkan alat musik itu sehingga membentuk nada dan irama.

Adalah Eko Wiwid, pehobi karinding yang tergabung dalam Komunitas Sarekat (Sada Reka Karinding Rakyat). Dia bisa dibilang menjadi pionir perkembangan alat musik karinding di Cianjur. Sebagai seorang seniman, dalam setiap kesempatan berkesenian, Eko tak lupa selalu menyisipkan karinding sebagai bagian dari performanya.

Upaya Eko tak sia-sia. Karinding saat ini mulai dikenal tak hanya di kalangan masyarakat dewasa atau orang tua saja, tapi juga sudah merambah hingga ke kalangan anak sekolah.

“Alhamdullilah, perkembangan alat musik karinding saat ini di Cianjur cenderung meningkat. Salah satu buktinya, anak-anak sekolah pun mulai menggemari alat musik ini,” kata Eko kepada INILAH ditemui di sela-sela persiapan Pameran Fotografi yang digelar Cianjur Lintas Newspaper (Clipers) di Museum Budaya Cianjur, Jumat (11/7).

Tidak hanya menggemari saja, anak-anak sekolah di Cianjur saat ini sudah mau berlatih. Bahkan mereka tak segan mengeluarkan uang sekadar ingin memiliki alat musik tersebut.

“Padahal dulu alat musik karinding ini hanya dikenal terbatas bagi kalangan tertentu saja. Tapi sekarang sudah mulai menyebar ke berbagai kalangan,” tuturnya.

Bahan dasar karinding bisa terbuat dari bambu atau pelepah pohon aren. Sebetulnya dulu yang paling banyak dipakai berbahan pelepah pohon aren. Namun sekarang karinding banyak menggunakan bambu.

“Sebetulnya sama saja sih mau terbuat dari bambu atau dari pelepah pohon aren juga. Kualitas suara yang dihasilkan sangat halimpu (empuk). Namun kalau bambu itu cepat kering. Sementara kalau dari pohon aren, yang lamanya itu dalam proses pengeringan karena banyak mengandung air. Lagipula bahan dari pohon aren sudah mulai sulit diperoleh. Jadinya banyak yang membuat karinding itu dari bambu,” ucap Eko yang juga pegiat lingkungan hidup di Cianjur ini.

Membuat karinding itu gampang-gampang susah. Artinya, bentuk karinding itu terbilang sangat simpel, namun membutuhkan ketelitian dalam menyesuaikan nada.

“Tidak ada alat khusus sih untuk menyesuaikan nada, hanya mengandalkan feeling saja. Apalagi kan karinding itu nada suaranya rendah,” sebutnya.

Karena itu, karinding sangat cocok dikolaborasikan dengan alat musik modern lainnya atau aliran musik berbagai genre, seperti balada, pop, atau lainnya. Selain di Cianjur, Eko pun mengaku sempat beberapa kali ikut diundang dalam perform karinding di sejumlah kota, seperti di Bandung. Biasanya, karinding digunakan sebagai acara pembuka (rajah pangjajap) sebuah acara adat.

“Memang ada nilai-nilai mistis juga sih karinding itu karena biasanya dipakai sebagai alat musik ritual sebelum memulai acara,” beber Eko.

Menurut Eko, karinding itu sebetulnya bukan merupakan alat musik tradisional asal Jawa Barat. Pasalnya, di beberapa daerah lainpun terdapat alat musik sejenis karinding namun beda penamaan.

“Misalnya seperti di Kalimantan dinamai Kurinding, atau di Bali yang dinamakan Genggong. Alat musik itu sejenis karinding hanya beda namanya saja,” katanya.

Saat ini di Jawa Barat sendiri karinding sudah mulai dikenal luas. Bahkan Jawa Barat jadi barometer alat musik karinding bagi daerah-daerah lainnya di Indonesia.

“Cianjur salah satunya. Saat ini karinding sudah mulai berkembang pesat,” tandasnya

Sumber : http://www.inilahkoran.com/