Komunitas Jatinangor: Wadah Kreatifitas Anak Muda Jatinangor

Komunitas Jatinangor Wadah Kreatifitas Anak Muda JatinangorBerbicara mengenai komunitas, erat kaitannya dengan kelompok atau perkumpulan tertentu. Komunitas memang merupakan salah satu bentuk kelompok yang sengaja dibentuk dengan tujuan tertentu. Seperti halnya komunitas-komunitas yang ada di Jatinangor, yang merupakan wadah perkumpulan anak muda Jatinangor dengan tujuan untuk penyaluran minat dan bakat anak-anak muda Jatinangor sesuai bidangnya masing-masing.

Supriya Budiman, seorang pemuda berusia 28 tahun asli Jatinangor, mengawali karirnya dengan menjadi penari profesional di Bandung di tahun 2003. Sekembalinya ke Jatinangor, Supriya merasa prihatin melihat teman-teman sepermainannya dulu tidak memiliki banyak kesempatan untuk berkegiatan karena kurangnya fasilitas yang tersedia. Hal tersebutlah yang menggerakkan Supriya untuk menghimpun komunitas-komunitas yang ada di Jatinangor ke dalam suatu wadah yaitu “Komunitas Jatinangor”.

Komunitas Jatinangor berdiri pada tahun 2013. Awalnya, hanya ada komunitas B-Boy, hip-hop, dan breakdance. Supriya pun berinisiatif untuk mencari komunitas yang ada di Jatinangor dan mengajak mereka bergabung. Hingga saat ini, terdapat dua belas komunitas yang tergabung. Dengan begitu, tiap komunitas dapat saling bersilaturahmi, saling berbagi, menceritakan masalah masing-masing, dan dapat memberi solusi antarkomunitas.

Komunitas-komunitas yang tergabung dalam Komunitas Jatinangor berasal dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pengusaha, seperti Dika yang mendirikan komunitas skateboard sekaligus pemilik distro Star Away; mahasiswa, seperti Fajar dan Hardi, mahasiswa Unpad pendiri komunitas parkour; mahasiswa ITB seperti Adit dari komunitas tari tradisional; mahasiswa ISBI seperti Vian; anggota tari tradisional yang berasal dari Cimanggung, Raden Ayu K. Johan; bahkan anak sekolah dari SD sampai SMA.

Kegiatan yang dilakukan setiap komunitas tentunya beragam. Salah satu contohnya adalah komunitas Jatinangor Beatbox yang mengadakan latihan setiap minggu pagi. Pelatihnya bahkan didatangkan khusus dari Bandung dan kota-kota lainnya. Jika kemampuan para anggota dalam melakukan beatbox sudah dianggap cukup baik, mereka akan diikutkan kompetisi beatbox, mulai dari yang ada di Bandung, hingga di Tangerang dan Cirebon.

Menurut Supriya, awalnya para anggota masih terlihat malu-malu. Namun, setelah dilatih dan diberi kesempatan untuk mengisi talent di beberapa kafe, akhirnya mereka mulai berani untuk tampil di depan umum.

“Jadi kayak emang awalnya mereka malu-malu gitu kan, akhirnya mereka dicobain saya bikin kesempatannya buat bisa nunjukkin, ya akhirnya mereka alhamdulillah sekarang sudah mulai berani perform-perform kayak kalau misalnya ada beberapa cafe yang ingin diisiintalent, kita cobain masukin,” ujar Supriya Budiman.

Lain halnya dengan komunitas skateboard. Selain rutin berlatih di area depan gedung rektorat, saat ini mereka sedang membuat suatu film dokumenter yang mengangkat tema tentang skaters lokal di Jatinangor. Nantinya, mereka berencana untuk melakukan pemutaran film di Bandung. Tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan sponsor yang bisa menyokong kegiatan skateboard di Jatinangor.

Di samping kegiatan yang dilakukan masing-masing komunitas, ada pula gathering komunitas yang bertajuk “The Introduction”. Acara tersebut dilaksanakan di Zie Café, Jatinangor Town Square, pada Februari 2016 silam. Di sana, para anggota dari tiap komunitas saling berbagi satu sama lain. Di luar itu, perkumpulan rutin yang dilakukan antarkomunitas hanyalah dihadiri oleh para pengurus untuk membahas isu yang sedang hangat maupun rencana yang dimiliki tiap komunitas.

Untuk bisa bergabung di Komunitas Jatinangor, Supriya menuturkan bahwa tidak ada syarat khusus. Cara bergabungnya cukup sederhana. Tanpa harus mengisi formulir pendaftaran, para calon anggota bisa langsung datang ke basecamp atau tempat latihan rutin dari komunitas yang ingin diikuti.

“Syaratnya mah, enggak usah malu aja. Asalkan ada keinginan untuk bergabung dan keinginan untuk bersilaturahmi, itu udah cukup,” ujar Supriya yang diwawancarai pada Kamis (4/5/2017) di kediamannya yang juga dijadikan basecamp beberapa komunitas.

Ketika ditanyai mengenai kondisi komunitas saat ini, Supriya menjawab bahwa masing-masing “rumah tangga” memiliki situasi yang berbeda. Namun, secara umum, komunitas yang beranggotakan mayoritas anak SMP dan SMA seperti komunitas beatbox dan dance, akhir-akhir ini belum terlalu aktif karena anak-anak tersebut masih sibuk dengan ujian sekolah dan beberapa di antaranya baru menyelesaikan ujian nasional. Banyak pula anggota yang setelah lulus sekolah, memutuskan kuliah atau bekerja di luar Jatinangor. Meskipun demikian, ada rencana untuk membuat The Introduction volume 2 yang berisi pertemuan dan perkenalan komunitas kepada khalayak umum.

Dengan segala energi, waktu, dan potensi yang dimiliki oleh anak-anak muda, khususnya anggota Komunitas Jatinangor, Supriya sangat menyayangkan kondisi Jatinangor yang tidak memiliki ruang publik, sehingga tempat untuk tampil menjadi kurang memadai. Berbeda dengan Bandung yang memiliki car free day setiap pekannya yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk unjuk kebolehan. Padahal, kegiatan-kegiatan seperti inilah yang jika ditekuni, dapat menjadi profesi sekaligus menyalurkan minat dan bakat, serta menjauhkan anak-anak muda Jatinangor dari hal-hal yang kurang baik.

“Kendalanya, kita karena komunitas, rencana kegiatan banyak, terus juga mimpi-mimpi dan harapan kita banyak. Kita terkendala di masalah, bisa dibilang kita nggak punya duit buat ngelakuin ini-itu. Terutama kalau misalnya ada kompetisi, kita kesulitan di pendaftaran. Transportasi kita kan selama ini (menggunakan uang), uang-uang itu kita kumpulin dari uang kas. Kayak tempat latihan atau beberapa (komunitas) kan kalau pengen latihan di studio kita sewa dan itu juga terbatas, kita harus bikin street perform. Kalau di Bandung itu mereka punya sound system dan mereka bisa street perform di car free day. Beda dengan Jatinangor. Kalau mau car free day kita harus ke Bandung atau enggak ke Sumedang, jauh,” jelasnya.

Selain itu, Komunitas Jatinangor yang belum mempunyai legalitas ini kadang membuat anggotanya diusir oleh pihak terkait saat mengadakan kegiatan di suatu tempat. Maka dari itu, Supriya ingin meningkatkan status komunitas ini menjadi yayasan. Dengan begitu, Komunitas Jatinangor nantinya akan lebih mudah untuk meminta dukungan ke pihak-pihak tertentu, baik dari segi pendanaan maupun tempa