Lawan “Hoax” dengan Konten Informasi Digital yang Baik

Lawan Hoax dengan Konten Informasi Digital yang BaikBerita bohong (hoax) harus dilawan dengan membuat konten informasi digital yang baik. Direktur Pengolahan Media dan Informasi Diskom Info RI Siti Meiningsih menyampaikan hal itu pada pembukaan workshop Konren Informasi Digital (KIDI) di Aula Uninus, Jalan Soekarno Hatta Bandung, Kamis, 19 Mei 2017.

Menurut dia, “hoax” berdampak negatif bukan hanya pada perseorangan dan kelompok, tetapi juga terhadap negara dan bangsa. Mahasiswa menjadi salah satu sasaran empuk “hoax” yang mengakibatkan munculnya faham radikalisme dan berujung pada perpecahan bangsa. Persatuan dan kesatuam bangsa menjadi terancam.

“Oleh karena itu, membuat konten informasi digital yang baik dapat menjadi penangkal munculnya faham radikalisme sebagai dampak bermunculannya ‘hoax’ yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Inisiasi pencegahan “hoax”, kata Siti, sudah dilakukan Diskom Info RI dengan cara menggelar workshop KIDI sejak dua tahun lalu. Workshop ini diikuti mahasiswa dan kalangan generasi muda. Pada tahun 2016 workshop KIDI digelar di 9 kota sedangkan tahun 2017 workshop serupa digelar di 10 kota. Adapun Kota Bandung merupakan kota ke delapan setelah Menado, Makassar, Banjarmasin, Mataram, Padang, Malang, dan Semarang. Kota selanjutnya menyusul di Jakarta.

Dalam workshop tersebut, peserta mendapat materi tentang bagaimana cara-cara membuat konten informasi digital hang baik dilanjutkan dengan membuat blog. Tujuannya agar mahasiswa dan kalangan generasi muda dapat menyampaikan informasi dan gagasan-gagasannya yang baik dengan cara-cara kreatif dan baik pula. Hasil workshop ini nantinya dilombakan dan pemenangnya diumumkan di Jakarta.

Islam Nusantara

Wakil Rektor Akademik Husein Syaiful Islam, menyambut baik progarm KIDI Diskom Info. Pasalnya, kata dia, “hoax” telah berdampak buruk pada banyak pihak. Program KIDI yang digulirkan Diskom Info akan sangat bermanfaat dan mengajak mahasiswa untuk membuat karya-karya kreatifnya.

Di kampus Uninus sendiri kata Warek, paham-pahaman radikalisme yang mendorong terjadinya perpecahan diatasi dengan menyeimbangkan kompetensi dan hati. Kompetensi terkait dengan kemampuan sedangkan hati terkait denfan kepedulian.

Paham wawasan Islam Nusantara menjadi paham lain yang dikembangkan Uninus dalam menangkal paham radikalisme yang berujung pada perpecahan bangsa. Hal lain yang disiapkan Uninus adalah mendirikan sekolah vokasi.

Sekolah vokasi bukan hanya diperlukan oleh perguruan tinggi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi. Tetapi juga untuk lulusan SMA/SMK

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/