Napak Jagat Pasundan 2013, Gugah Kecintaan pada Budaya

Napak Jagat Pasundan 2013, Gugah Kecintaan pada Budaya

Jatinangorku.com – DI tengah era globalisasi saat ini, modernisasi dan gaya hidup kebarat-baratan yang sarat pengaruh negatif, sedikit demi sedikit menggerus dan mencabut karakteristik nilai-nilai budaya luhur warisan budaya bangsa. Salah satunya budaya Sunda.

Pesatnya kemajuan teknologi seiring era globalisasi yang terus berkembang dengan pesat, membuat manusia menjadi lupa nilai-nilai budaya yang harus dijaganya. Hal itu tentu sajamengundang keprihatinan para budayawan serta orang-orang yang memang sangat memperhatikan dan menjaga budaya-budaya Sunda.

Untuk membangkitkan kembali serta melestarikan budaya Sunda, Paguyuban Sundawani Wirabuana yang didukung Paguyuban Pasundan menggagas even akbar bertajuk Napak Jagat Pasundan 2013 “Ngider Dayeuh Mapay Lembur”.

Roby Maulana Zulkarnaen selaku budayawan mengatakan, Napak Jagat Pasundan ini merupakan upaya bersama yang melibatkan budayawan dan seniman Sunda sebagai sebuah upaya yang bukan hanya untuk melestarikan budaya, tapi juga untuk lebih mengembangkannya melalui langkah-langkah nyata.

“Prihatin dengan kondisi saat ini. Kegiatan ini sengaja digelar untuk menggugah kembali orang Sunda supaya bisa kembali bangkit dan tandang di tanah kelahirannya. Kalau bukan kita orang Sunda, siapa lagi,” kata Roby pada workshop sekaliguspress conferency Napak Jagat Pasundan 2013, di Babakan Siliwangi, Rabu (9/10).

Pada kegiatan yang dihadiri pula oleh Taufik Faturohman, Aat Suratin, Tisna Sanjaya, Doel Sumbang serta budayawan dan anggota Paguyuban Sundawani Wirabuana tersebut, Roby menyatakan, rangkaian even yang dikemas dengan pergelaran seni ini diharapkan bisa membangunkan kembali potensi budayaSunda yang telah lama tertidur dalam pangkuan kata-kata dan irama yang melemahkan diri.

Lebih jauh Roby menjelaskan, Napak Jagat Pasundan “Ngider Dayeuh Mapay Lembur” ini akan berlangsung di 19 kota berbeda, hingga ke pelosok kampung melalui dialog dan pentas seni yang akan dikemas dan ditata dengan apik dan menarik. Pada pelaksanaannya nanti penyelenggaraan even ini tidak cuma akan melibatkan artis sebagai hiburan, tapi juga akan melibatkan komunitas serta pejabat daerah setempat.

“Akan ada pergelaran kebudayaan Sunda seperti lais, beluk, sudong, celempung karinding, Cecep Cepot, jaipong maung, jaipong akapela, pencak silat, bajidor, ronggeng gunung,” bebernya.

Tidak mudah

Sementara itu musisi pop Sunda, Doel Sumbang mengatakan, tidak mudah membangkitkan lagi kecintaan warga kepada kebudayaannya masih-masing. Apalagi saat ini masyarakat terkesan enggan melestarikan budayanya. Untuk itu Doel menilai butuh keberanian yang konsisten dari masyarakat untuk memulihkan dan memperbaiki budayanya. 

“Di even ini, saya memang hanya bintang tamu. Tapi nantinya akan berusaha untuk menggugah masyarakat kembali agar mau melindungi budaya bangsa.”

“Begitu banyak perubahan yang telah terjadi di masyarakat, salah satunya tentang bahasa. Saat show saya akan mencoba untuk menyentil masalah itu. Dengan begitu mudah-mudahan bisa menggugah kesadaran masyarakat. Saya ingin tahu, ari urang Sunda teh aya teu sih,” katanya.

Hal utama yang harus diselesaikan, kata Doel, adalah bahasa. Menurutnya, jika bahasa ini hilang jangan harap kebudayaan yang lainnya bisa tetap bertahan. “Seperti yang kita tahu bahasa Sunda itu sangat luas. Satu benda saja bisa banyak sebutannya. Dan inilah yang kadang membingungkan kita. Jadi lebih baik tunda dulu masalah itu. Kita kenalkan saja bahasaSunda yang umum ataupun yang sudah dikenal oleh masyarakat. Mudah-mudahan dengan cara itu masyarakat bisa tetap menggunakan bahasa Sunda tanpa memikirkan dulu bagaimana pemakaian kata-katanya yang tepat,” kata Doel.

Menurut Doel, hal seperti itu seharusnya tidak hanya dilakukan oleh Sundawani. Dia berharap setelah adanya kegiatan itu masyarakat tergugah untuk gunakan bahasa Sunda lagi.

“Kegiatan ini digelar supaya budaya Sunda bisa bangkit lagi. Dan seharusnya kegiatan seperti itu tidak cuma dilakukan Sundawanisaja, tapi semua masyarakat Sunda harus turut terlibat dalam melestarikan budaya bangsanya sendiri,” katanya.

Even ini akan bergulir mulai 19 Oktober dengan kota pertama di Lapangan Dadaha, Tasikmalaya.

 

 

 

Sumber : http://www.klik-galamedia.com