Petani Keluhkan Pemanfaatan Air Sungai Cikeruh oleh Pabrik

Kebun Emas 486 x 60

JATINANGOR (08/01)

Sejumlah petani di sejumlah desa di Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang dan Kec. Rancaekek, Kab. Bandung mengeluhkan penggunaan air Sungai Cikeruh oleh perusahaan industri di kawasan Jatinangor. Pengambilan air yang mencapai ratusan meter kubik/menit itu sudah berlangsung selama lima tahun.

“Penggunaan air Sungai Cikeruh itu sudah lama dikeluhkan para petani. Saya jadi ingin tahu, apakah pengambilan air baku di sungai oleh pabrik memang diperbolehkan?” kata tokoh masyarakat Desa Cintamulya, Kec. Jatinangor, Heri Rahayu kepada “GM” di Rancaekek, Senin (7/1).

Menurut Heri, keluhan itu sudah lama disampaikan kepada dinas terkait, termasuk perusahaan tersebut.

“Tapi sampai saat ini belum tertanggulangi oleh pemerintah setempat. Pengusaha juga masih terus melakukan pengambilan air dari Sungai Cikeruh,” ujarnya.

Dikatakan, pihak pengusaha membuat saluran air dengan diameter yang besar. “Pengambilan air dari Sungai Cikeruh itu dari mulai titik pembagian air di kawasan Kp. Cikuda, Desa Jatiroke,” katanya.

Kini sejumlah petani mempertanyakan izin pengambilan air oleh pihak perusahaan. “Apakah ada izin atau tidak, kami belum mengetahui secara pasti,” tuturnya.

Yang pasti dampaknya lahan pertanian mengalami kekeringan di musim kemarau. “Banyak lahan yang tidak terairi dan mengalami kekurangan air karena airnya sebagian dialirkan ke perusahaan,” ujarnya.

Selain para petani di Jatinangor, keluhan serupa dialami petani di Desa Jelegong, Kec. Rancaekek. Seharusnya, katanya, pemerintah turun tangan.

“Soalnya banyak petani yang tidak bisa menggarap lahan di musim kemarau. Lima tahun sebelumnya, petani masih bisa menggarap sawahnya karena masih ada air dari Sungai Cikeruh,” katanya.

Sementara memasuki musim hujan, sebgian lahan pertanian malah kebanjiran. Untuk itu, persoalannya tidak hanya di musim kemarau, musim hujan juga menjadi persoalan yang cukup serius.

sumber: klik-galamedia

Kebun Emas 486 x 60