RSUD Sumedang Siagakan IGD Selama Masa Mudik Lebaran

RSUD Sumedang Siagakan IGD Selama Masa Mudik LebaranRumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumedang menyiagakan IGD (Instalasi Gawat Darurat) berikut tenaga medis dan alat kesehatannya (alkes), untuk mengatasi para pasien yang tengah  mudik Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Bahkan selama libur mudik Lebaran tahun ini, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan,  memberikan kebijakan setiap pemudik yang mengalami kejadian darurat dan non darurat bisa langsung dirawat di IGD. Hal itu, tanpa melalui prosedur rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti puskesmas dan klinik.

“Jadi, selama libur  mudik Lebaran, tidak berlaku prosedur rujukan. Pasien darurat dan non darurat, bisa langsung dilayani di IGD dan segala biayanya dijamin BPJS Kesehatan,” ujar Direktur RSUD Sumedang, Hilman Taufik WS di Sumedang, Minggu  18 Juni 2017.

Ia mengatakan, pelayanan di IGD tak hanya menangani  para pemudik yang mengalami kecelakaan darurat saja, para pasien yang menderita penyakit kronis pun bisa dilayani langsung di IGD, termasuk pemberian obat-obatan rutin.  Hal itu, sehubungan layanan rawat jalan, mulai libur  dari Jumat23 Juni 2017 sampai Minggu 2 Juli 2017 nanti. “Memang libur Lebaran tahun ini lumayan lama hampir 10 hari. Apabila pasien penyakit  kronis ini obatnya habis di tengah liburan, pengambilan obatnya bisa di IGD. Saya sudah memerintahkan petugas IGD untuk melayani pasien kronis. Pasien penyakit kronis, seperti jantung, stroke, darah tinggi, kencing manis, asma, gangguan jiwa dan epilepsi,” tutur Hilman.

Ia mengatakan, guna mengantisipasi ruangan IGD penuh sesak oleh para pasien darurat dan non darurat, para pasiennya akan dilakukan pemilahan. Pasien yang mengalami kecelakaan darurat,  tetap dirawat di ruangan IGD. Sedangkan yang tidak darurat akan dilayani di posko di dalam rumah sakit. Tempatnya, dekat laboraturium. “Dengan pemilahan ini, pasien tidak menumpuk di IGD,” katanya.

Lebih jauh Hilman menjelaskan, bagi pasien terutama pemudik yang mengalami kecelakaan lalu lintas, diimbau untuk melaporkan kejadiannya kepada Polres Sumedang. Pelaporan tersebut, supaya biaya perawatan dan pengobatan di rumah sakit ditanggung BPJS Kesehatan. Hal itu, termasuk kecelakaan  tunggal. “Tanpa laporan polisi, biaya di rumah sakit tidak akan ditanggung BPJS Kesehatan,  termasuk kecelakaan tunggal. Misalnya, sepeda motor menabrak pohon atau terjatuh ke parit. Kalau lapor ke polisi, seluruh biayanya akan ditanggung. Jika kecelakaan tunggal tidak lapor ke polisi, khawatir hanya rekayasa,” katanya.

Obat generik kosong

Khusus untuk kesiapan obat-obatan dan alkes, kata dia, stoknya dinilai aman selama libur Lebaran. Hanya saja ada sedikit kendala, beberapa obat generik standar BPJS Kesehatan, stoknya kosong di pasaran. Meski demikian, untuk mengedepankan pelayanan kepada para pasien, stok obat generik yang kosong  akan diganti dengan obat paten walaupun RSUD Sumedang merugi. “Mengganti dengan obat paten, sebetulnya kerugian bagi rumah sakit. Akan tetapi, dari pada pasien tidak terlayani, kami akan memberikan obat paten,” tutur Hilman.

Menyinggung kabar kekurangan stok darah, ia membenarkan stok darah yang kosong yakni golongan darah A dan B. Akan tetapi, kondisi itu akan ditanggulangi dengan donor pengganti. Seandainya ada masyarakat atau keluarga pasien yang golongan darahnya A atau B, bisa mendonorkan darahnya untuk korban. “Jadi, kekurangan stok darah A dan B, bisa ditanggulangi,” ujarnya.

Kenaikan tunjangan kematian

Sebelumnya, Penanggungjawab Jasa Raharja Sumedang, Tatan Muslihat mengatakan, tunjangan kecelakaan lalu lintas bagi para korban,  tahun ini mengalami kenaikan. Tunjangan untuk korban meninggal dunia, dari asalnya Rp 25 juta naik menjadi Rp 50 juta. Untuk korban luka-luka dari Rp 10 juta menjadi Rp 20 juta.  Termasuk untuk biaya ambulan dan transportasi jenis lainnya yang  mengantarkan korban kecelakaan ke rumah sakit, akan diberikan tunjangan maksimal Rp 500.000.

“Tak hanya ambulance saja, tukang ojek atau angkot yang mengantarkan korban kecelakaan dari tempat kejadian ke rumah sakit, akan diberikan tunjangan transport maksimal Rp 500.000. Syaratnya, kecelakaannya harus dilaporkan kepada polisi,” kata Tatan