Tol Cisumdawu Masih Terhambat


JATINANGOR (24/11)

Proses pembebasan laahan untuk megaproyek Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) ternyata masih terhambat. Selain di Jatinangor, belum ada tanda-tanda sosialisasi di Tanjungsari, Kab. Sumedang. Masih ada pemilik lahan yang belum sepakat dengan harga tanah, sehingga menghambat proses pembebasan lahan.

Bahkan berdasarkan informasi di lapangan, Jumat (23/11), masih ada pemilik lahan yang enggan melepaskan tanahnya. Alasannya belum ada kecocokan harga tanah.

M. Toha, salah seorang warga Desa Margaluyu, Kec. Tanjungsari misalnya, masih menunda melepaskan tanah miliknya yang terkena proyek Tol Cisumdawu. Pasalnya, ia mengaku belum ada kecocokan harga tanah dengan panitia pembebasan tanah yang terkena proyek nasional tersebut.

“Ada tanah milik orang lain yang dihargai Rp 128.000/meter. Di atas tanah tersebut tidak ada tegakan. Sedangkan tanah milik saya dihargai Rp 70.000/meter dan di atasnya berdiri bangunan,” kata Toha kepada wartawan, Kamis (22/11).

Menurutnya, karena ada perbedaan harga jual tanah, dirinya berusaha mempertahankan tanah miliknya. Ia akan melepaskan tanahnya jika ada kesesuaian dan keadilan harga jual tanah maupun bangunan. “Kenapa harga tanah milik saya lebih murah dari harga tanah orang lain yang tidak ada bangunan,” katanya.

Toha juga merasa heran dengan adanya perbedaan harga tanah yang sangat mencolok. Tanah miliknya berada di pinggir jalan tol yang akan dibangun. Sementara tanah milik orang lain menjorok ke dalam dan jauh dari garis lokasi jalan tol. 

Sementara itu pembebasan tanah untuk proyek serupa di Desa Sukarapih, Kec. Sukasari, Kab. Sumedang sudah mencapai 99 persen. Pemerintah akan terus membebaskan lahan, di antaranya di Kec. Tanjungsari, Jatinangor, dan di kecamatan lainnya yang terkena pembebasan lahan untuk pembangunan tol tersebut.

Kepala Desa Sukarapih, Kec. Tanjungsari, Setiawan Saputra mengatakan, pada umumnya para pemilik lahan sudah menyetujui harga tanah yang akan dilalui jalan tol.

sumber : klik-galamedia