27 Orang Mati Sia-Sia Akibat Miras Oplosan

by -127 views

Jatinangorku.com – Polda Telusuri Keterkaitan Kasus Miras Oplosan Garut dan Sumedang

GARUT, (KP).- Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat akan menulusuri kemungkinan adanya keterkaitan kasus miras oplosan yang terjadi di Kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang yang telah menyebabkan 27 orang meninggal. Kasus ini bahkan dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol M Iriawan mengatakan, tidak menutup kemungkinan ada kaitan antara kasus tewasnya 17 orang di Garut dan 10 orang di Sumedang akibat menenggak miras oplosan belum lama ini. Selain
kasusnya serupa, waktu kejadian pun hampir bersamaan. Untuk menelusuri hal itu, Kapolda menyatakan telah memerintahkan jajaran intel untuk turun dan melakukan penelusuran.
Namun demikian Kapolda menerangkan, proses penyelidikan kasus miras ini dilakukan secara terpisah di Polres masing-masing.
“Untuk mengungkap apakah ada kaitannya antara kasus yang terjadi di Garut dan yang di Su­me­dang, kita akan bekerjasama dengan intelejen. Semen­tara kasus ini proses penyelidikannya masih dilakukan secara terpisah atau sendiri-sendiri,” ujar Kapolda dalam acara konferensi pers terkait kasus miras oplosan yang digelar di Mapolres Garut, Senin (8/12/2014).
Dikatakannya, pendalaman kasus tersebut dilakukan juga untuk menjawab pertanyaan apakah miras oplosan yang diminum para korban di Garut dan di Sumedang itu berasal dari tempat yang sama atau bukan. Sementara itu, hasil pemeriksaan terhadap sampel minuman oplosan tersebut terdapat zat yang membahayakan bagi ma­nusia jika mengonsumsinya. Bah­kan, tambahnya, pembuat minuman oplosan itu memasukan metanol, cairan obat nyamuk atau pembasmi nyamuk merk tertentu serta spirtus yang seharusnya tidak bisa dijual untuk perorangan.
Menurut Kapolda, miras oplosan yang dinamai Cherry­belle ini bukan barang pabrikan tapi murni “handmade” atau produksi rumahan. Kandungan metanol dan obat nyamuk dalam miras oplosan itu, menjadikan miras tersebut menjadi sangat dahsyat dampaknya bahkan sangat membahayakan jiwa. Berda­sarkan keterangan dokter, kandungan metanol mengakibatkan terjadinya kerusakan lambung, obat nyamuk merusak saraf otak bahkan bisa mengakibatkan pecahnya syaraf otak hingga menyebabkan kematian.
“Kandungan-kandungan zat berbahaya seperti inilah yang tidak diketahui masyarakat sehingga mereka mau meminumnya dan akhirnya menjadi korban sia-sia,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolda juga menyoroti fungsi pengawasan yang melekat pada instansi terkait yang dinilainya tidak optimal. Hal ini telah me­nyebabkan bahan-bahan berbahaya seperti metanol yang seharusnya tidak bisa dijual be­bas kepada perseorangan men­jadi bisa dengan mudah didapatkan. Oleh karena itu Kapolda meminta Bupati lebih mene­kankan kepada instansi terkait agar lebih meningkatkan tingkat penga­wasannya.
“Siapa yang membeli bahan kimia ini dan siapa juga toko yang menjualnya. Berdasarkan aturan, seharusnya toko kimia hanya menjual bahan itu ke pihak tertentu untuk keperluan industri dan tidak diperbolehkan menjualnya ke perorangan. Pen­jualan bahan-bahan seperti ini ha­rus dilengkapi surat-surat res­mi dan ini juga akan kami dalami,î ujarnya.
Kapolda juga mengungkapkan, Kepolisian telah berhasil mengamankan empat tersangka yang diduga terlibat dalam penjualan miras oplosan maut tersebut. Dua tersangka ditangkap Polres Garut karena menjadi penjual miras oplosan di wilayah Garut, sedangkan dua tersangka lainya ditangkap oleh Polres Sumedang yang salah satunya duitangkap di Bali karena mencoba melarikan diri.
Selain empat tersangka ini, Kapolda menyebutkan, pihak Kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap tersangka lainnya. Informasi yang didapat, salah satu tersangka melarikan diri ke daerah Sumatera dan masih dilakukan pengejaran.
Para tersangka akan dijerat Pasal 204 KUHP, Pasal 146 UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.
Kapolda juga menandaskan, kasus miras oplosan di Kabu­paten Garut dan Sumedang ini sudah dinyatakan sebagai sebuah kejadian luar biasa (KLB). Hal ini disebabkan tewasnya 27 orang secara sia-sia akibat me­nenggak miras oplosan.

Pemusnahan dan deklarasi
Sebelumnya, bertempat di Mapolres Garut, ribuan masya­rakat yang mewakili beragai kalangan menggelar deklarasi penolakan terhadap miras. De­kla­rasi dilanjutkan dengan ke­giatan pemusnahan ribuan botol miras dari berbagai jenis dan merk yang merupakan hasil ra­zia yag dilakukan jajaran Polres Garut.
Menurut Kapolres Garut AKBP Arif Rachman, sebenar­nya poihaknya telah melakukan razia jauh-jauh hari sebelum peristiwa tewasnya 17 warga akibat menenggakl miras oplosan.
“Ribuan botol miras ini merupakan hasil razsia yag kami lakukan sejak jauh-jauh hari kasus miras oplosan ini terjadi. Selama ini kita memang intens melakukan razia namun ternyata masih ada saja miras yang beredar di luar,” kata Kapolres.
Selain ribuan botol miras, ratusan liter miras oplosan yang juga hasil sitaan juga turut dimusnahkan dalam kegiatan tersebut. Selain dihadiri Kapolda Jabar dan kapolres Garut, ke­giatan deklarasi da pemusnahan miras ini juga dihadri sejumlah pejabat di lingkungan Polda Ja­bar, Muspida Kabupaten Ga­rut, para tokoh ulama dan ma­sya­rakat, ormas, LSM, serta unsur masyarakat lainnya.

Sumber : http://www.kabar-priangan.com/