28 Persen Balita di Sumedang Mengalami Stunting

by

Sebanyak 28 persen atau 30 ribu balita di Kabupaten Sumedang, mengalami stunting atau permasalahan kurang gizi kronis yang diakibatkan asupan gizi kurang dan pemberian makan tidak sesuai.

Berdasarkan ketetapan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batas toleransi stunting maksimal 20 persen, sedangkan prevalensi balita di Kabupaten Sumedang melampui angka tersebut, yakni mencapai 28 persen dari total keseluruhan jumlah balita.

 

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Anna Hernawati Sabana, mengatakan, melampui angka tersebut, masalah stunting di Kabupaten Sumedang menjadi permasalahan prioritas yang harus ditekan hingga angka ketetapan WHO.

 

“Untuk mencegah meningkat prevalensi angka stunting di Sumedang, berbagai cara dilakukan, di antaranya, memberikan tablet penambah darah (Fe) bagi remaja putri (rematri,” kata Anna di Hotel Khatulistiwa Jatinangor, Kecamatan JatinangorKabupaten Sumedang, belum lama ini (27/10/2018).

Dari informasi yang berhasil dihimpun, 10 desa di delapan kecamatan di Kabupaten Sumedang menjadi fokus intervensi untuk menekan angka stunting.

Desa tersebut yakni Desa Cijeruk (Kecamatan Pamulihan), Desa Cilembu (Kecamatan Pamulihan), Desa Mekarbakti (Kecamatan Pamulihan), Desa Sukahayu (Kecamatan Rancakalong), Desa Cimarga (Cisitu), Desa Malaka (Kecamatan Situraja), Desa Ungkal (Kecamatan Conggeang), Desa Mekarsari (Sukasari), Desa Margamukti (Kabupaten Sumedang Utara), Desa Sukahayu (Kecamatan Rancakalong), dan Desa Kebonkelapa (Kabupaten Sumedang).

Anna mengatakan, 10 desa didelapan kecamatan yang menjadi fokus intervensi stunting, itu ditetapkan langsung oleh pihak Kementerian Kesehatan (Menkes).

“Semua kegiatan yang diberikan, berbentuk pelayanan akan dilakukan secara kontinyu, guna menakan angka,” katanya.

Penyebab stunting banyak terjadi di delapan desa tersebut, kata Anna, dipengaruhi dari tingkat kesejahteraan masyarakat yang jauh lebih rendah dibandingkan beberapa desa lainnya di Kabupaten Sumedang.

“Faktor geografis juga berpengaruh, contoh, untuk air minum yang biasa dikonsumsi, tidak mengandung yodium, sehingga mengalami penghambatan tumbuh kembang,” katanya.

 

 

Sumber : http://jabar.tribunnews.com