35 Guru Disiapkan Untuk Gantikan Sosok Een Sukaesih

by -51 views

Bertepatan dengan dua tahun meninggalnya sang guru qolbu asal Sumedang, almarhumah Een Sukaesih tanggal 12 Desember 2016 kemarin, lahir lah 35 guru model yang telah dididik dan dilatih oleh Yayasan Al-Barokah Een Sukaesih selama dua hari, Sabtu 11 Desember 2016 hingga Minggu 12 Desember 2016. Ke-35 guru model tersebut, terdiri dari para guru dan kepala sekolah SD hingga SMA dan sederajat dari beberapa kecamatan.

“Momen ini saya sebut ‘1212’ (12 Desember 2016-red). Pada ‘1212’, telah lahir 35 guru model Een Sukaesih, bertepatan dengan dua tahun meninggalnya almarhumah sang guru qolbu Een Sukaesih. Ke-35 guru model ini, mudah-mudahan bisa meneruskan perjuangan Een Sukaesih yang mengajarkan pendidikan berbasis kasih sayang, khususnya di tempat kelahirannya di Sumedang. Melalui guru model ini, diharapkan muncul ratusan bahkan ribuan guru yang memiliki karakter seperti sosok almarhumah Bu Een,” kata Pembina Yayasan Al Barokah Een Sukaesih. Herman Suryatman ketika dihubungi di Sumedang, Selasa 13 Desember 2016.

Menurut dia, pada momen “1212” dilaksanakan pula ziarah ke makam almarhumah Een Sukaesih di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Batukarut, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Selain memanjatkan doa sekaligus mengenang jasa-jasa almarhumah khususnya di dunia pendidikan, melalui ziarah itu pun diharapkan dapat mempertebal spirit para guru model. Semangat untuk menerapkan pendidikan berbasis kasih sayang dan keikhlasan terhadap para siswa di sekolahnya.

“Ziarah ini, kami masukan ke dalam bagian pendidikan dan pelatihan (diklat) guru model pada hari kedua,” ujar Herman yang juga Pembina Paguyuban Motekar Sumedang.

Ia menuturkan, hari pertama diklat di SD Ar-Rafi di Jalan Prabu Tajimalela, Sumedang, Minggu (11/12/2016), para guru model diberikan materi tentang berbagai pokok pikiran pendidikan berbasis kasih sayang yang diajarkan Een Sukaesih semasa hidupnya. Hal itu, meliputi materi akademik, pembentukan karakter, aktivitas keseharian kegiatan belajar mengajar (KBM), termasuk pendidikan agama dan akhlak. Pemateri, di antaranya ia sendiri, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Moch. Surya, pakar kurikulum sekaligus Direktur Ar-Rafi Drajat Center, Hari Suderadjat dan mantan Pemimpin Redaksi salah satu TV nasional Nurjaman Muhtar.

“Sebagai bentuk implementasi keikhlasan yang diajarkan Bu Een, segala pembiayaannya ditanggung secara gotong royong oleh para guru model, termasuk komponen masyarakat peduli pendidikan. Dari mulai penyediaan snak (makanan ringan), makan siang hingga fotokopi materi, dari iuran para guru model,” ucapnya.

Sementara diklat hari kedua Senin 12 Desember 2016, kata Herman, selain ziarah, juga dilakukan kegiatan observasi. Ke-35 guru model dibagi lima kelompok. Setiap kelompok diberikan tugas observasi dengan mendatangi rumah penduduk di sekitar Dusun Batukarut. Mereka harus menggali berbagai kearifan lokal Een Sukaesih saat mengajar anak-anak di lingkungan rumahnya.

“Karena yang diajarkan Bu Een kepada anak-anak dengan berbicara, sehingga penggalian ini untuk merekam kembali jejak almarhumah di bidang pendidikan di lingkungan masyarakat,” tuturnya.

Hasil observasi tersebut, lanjut dia, akan digunakan untuk melengkapi referensi buku panduan pendidikan berbasis kasih sayang Een Sukaesih. Buku tersebut, nantinya menjadi pedoman para guru dan penyelenggara sekolah dalam menarapkan pendidikan tersebut kepada muridnya di sekolah. Bahkan buku itu, akan dikaji dan diseminarkan dengan UPI Bandung serta para pakar pendidikan. Sekaligus juga dikomunikasikan dengan bupati, gubernur dan menteri pendidikan.

“Melalui buku panduan ini, metode pendidikan berbasis kasih sayang Een Sukaesih akan diujicobakan di sejumlah sekolah di Sumedang selama satu semester. Sudah ada beberapa sekolah yang siap menerapkan kepada murid-muridnya,” katanya.

Lebih jauh Herman menjelaskan, tindak lanjut dari diklat dan pembuatan buku panduan tersebut, para guru model akan mengaplikasikan pendidikan berbasis kasih sayang kepada para siswa di sekolahnya. Itupun setelah terlebih dahulu dikomunikasikan dengan para kepala sekolahnya. Bahkan secara resmi, pendidikan berbasis kasih sayang ini akan diujicobakan selama satu semester. Hal itu, untuk mengetahui sejauh mana manfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Sumedang.

“Apakah pendidikan berbasis kasih sayang ini bisa meningkatkan prestasi akademik siswa di sekolah dan membuat murid-muridnya berbahagia? Itu akan diketahui dari hasil ujicoba nanti. Namun yang terpenting, esensi diklat dan pembentukan guru model ini, tak lain untuk meneruskan perjuangan almarhumah Een Sukaesih,” ujar Herman