Aher: Ciri Khas Pesantren Tidak Boleh Hilang

by -27 views

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan, ciri khas pesantren tidak boleh hilang. Selain jumlah pesantren di Jabar cukup banyak, pesantren juga dinilai telah memberikan pendidikan iptek maupun agama.

“Pesantren merupakan bagian pendidikan yang harus kita majukan. Meskipun kita harus adil terhadap semua pihak. Sekolah negeri kita bangun, sekolah swasta kita bantu juga,” jelas Heryawan seusai memberikan kuliah umum di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta, Selasa (26/4/2016).

Pria yang akrab disapa Aher ini menyebut, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang. Menurutnya, sebelum ada sistem pendidikan yang dikelola pemerintah, pesantren sudah eksis terlebih dahulu.

“Pesantren yang ada saat ini sudah menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan zaman, menyesuaikan dengan sistem pendidikan pemerintah. Tapi khas pesantren tidak boleh hilang,” jelas Aher.

Aher menilai, pesantren memiliki kekhasan yang sangat unik karena pola pendidikan yang diajarkan tidak luput dari pengetahuan agama. Jika pemahaman ke depan itu hadir karena dua ilmu yang menentukan, Aher menyebut pesantren menjadi salah satu solusinya.

Dua ilmu tersebut, lanjut Aher, adalah ilmu pengetahuan berbasis agama yang bisa menuntun hidup terarah. Kemudian ilmu teknologi yang dapat mempermudah hidup manusia.

“Hidup mudah dan terarah itu bagian yang sangat penting. Saya melihat bahwa hidup terarah berasal dari agama, dan iptek ada di pesantren. di pesantren terkonsolidasi keduanya,” ucapnya.

Selama ini, Pemprov Jabar telah memberikan perhatian khusus pada pesantren. Meskipun pemerintah pusat sempat memberlakukan aturan bantuan sosisal, namun bantuan bagi pesantren tetap jalan terus.

“Bantuan pesantren berhenti ketika lembaganya tidak berbadan hukum. Kalau lembaganya berbadan hukum tidak berhenti. Targetnya bantuan 1.000 pesantren per tahun. Itu sampai sekarang terus berjalan,” jelasnya.

Di kampus UII, Aher menjadi pembicara di depan sekitar seribu mahasiswa baru pascasarjana. Di sana, Aher bercerita pengalaman hidupnya dari mulai sekolah, menjadi aktivis, anggota DPRD, hingga gubernur Jawa Barat.

“Itu semua kehendak dari Allah SWT. Dulu saya hanya penceramah dan guru bahasa arab. Guru saya tidak aneh ketika berbicara politik karena dari kecil saya suka politik karena kedua orang tua saya merupakan aktivis,” jelasnya.

Aher juga kagum dengan kampus UII yang didirikan dari 1945 tersebut. Pasalnya, kampus UII merupakan universitas Islam terbesar di Indonesia.

“Kita juga ada kampus besar seperti Unpad, ITB, dan IPB. Tugas saya adalah membawa pengetahuan ini ke Jawa Barat. Kita akan dorong Unpad, ITB, IPB diperbesar lagi,” ucapnya.

Aher menambahkan, agar partisipasi masyarakat untuk menuntut ilmu hingga perguruan tinggi meningkat, ada dua hal yang harus dibenahi. Pertama memperbesar daya tampung kampus negeri yang ada. Yang kedua membuat kampus-kampus baru.

“Itulah cara untuk memperbesar daya tampung untuk mempercepat angka partisipasi perguruan tinggi di Jabar semakin naik,” ucapnya.