Ahmad Suparman, Guru SD Ciawi Jatinangor yang Jadi Wasit Futsal FIFA

by -224 views
Ahmad Suparman (tengah), guru SDN Ciawi, Jatinangor yang juga berprofesi sebagai wasit sepak bola nasional dan wasit futsal FIFA,bersama Iwa Cahya, guru SDN Sinarjati, Jatinangor (kiri) dan Usep Mulyana, guru SDN Mekarsari, Jatinangor (kanan). (DEDE SUHERLAN/JABARTODAY.COM)



JATINANGOR (6/9)

JIKA Anda penggemar sepak bola nasional, pasti pernah melihat pria yang satu ini memimpin pertandingan sepak bola dalam Liga Super Indonesia (LSI) 2011-2012 lalu. Tak hanya itu, pria bernama lengkap Ahmad Suparman (41) yang saat ini mengajar di SDN Ciawi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang itu, juga telah berkibar sebagai wasit futsal di berbagai pertandingan internasional. Maklum, selain memiliki predikat wasit nasional, Ahmad merupakan wasit futsal federation international de football association (FIFA).

Bagian 1 : Melalui Sepak Bola Bisa Keliling Indonesia dan Melawat ke Luar Negeri

Kedekatan Ahmad Suparman dengan dunia perwasitan sepak bola  memang bukan serbadadakan. Di tengah aktivitas mengajar yang dijalani pria jebolan jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) STKIP Pasundan Cimahi ini, dia sudah malang melintang menjadi wasit sepak bola.

Tengoklah sekilas perjalanan Ahmad dalam memimpin pertandingan favorit masyarakat ini. Pada 2008 lalu, dipercaya menjadi salah satu wasit di Kejuaraan Dunia Futsal di Malaysia. Lalu,  pada 2009 menjadi wasit dalam Kejuaraan Futsal Asia di Vietnam. Pada tahun yang sama, Ahmad kembali menjadi wasit pada Kejuaraa Futsal Asean Football Federation (AFF) di Vietnam.

Tak hanya itu, untuk tingkat nasional, Ahmad didapuk untuk menjadi salah satu wasit yang memimpin pertandingan dalam LSI 2011-2012. Pertandingan LSI yang digelar di kandang Sriwijaya FC, Persipura, Persiwa, Persela, Persija, Pelita Jaya, Persiba, dan Mitra Kukar pernah diwasiti oleh Ahmad.

Selain itu, di pertandingan LSI 2011-2012 lainnya, yaitu di home basePersidafon,Persisam, Arema, PSPS, Persiram, Gresik Utd, PSMS, Deltras, dan PSAP juga pernah dipercayakan untuk dipimpin oleh Ahmad.

“Dalam satu bulan, saya biasa memimpin dua hingga tiga kali pertandingan LSI. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya bisa keliling Indonesia melalui sepak bola. Bahkan, karena profesi wasit yang saya geluti selama ini, saya pun bisa terbang ke luar negeri,” kata Ahmad, Rabu (5/9).

Tentunya, prestasi yang diraih Ahmad tak datang begitu saja. Perjalanan panjang telah dilewati oleh pria berperawakan tinggi dan besar itu. Untuk mencapai predikat wasit nasional dan wasit futsal FIFA, butuh perjuangan keras.

Ahmad menyebutkan, sejak menggeluti profesi wasit pada 2000 lalu, dia tak ingin sekadar menjadi wasit sepak bola yang biasa-biasa saja. Ternyata,  keinginannya itu berjalan sesuai rencana. Pada 2000, Ahmad meraih lisensi wasit tingkat dasar atau C3. Lalu, lisensi wasit tingkat kabupaten/provinsi atau C2 diperoleh pada 2002 dan lisensi wasit tingkat nasional atau C1 diraih pada 2004.

“Tiga lisensi wasit itu saya peroleh dalam waktu empat tahun. Melalui lisensi wasit tingkat nasional yang saya raih tujuh tahun lalu, kesempatan saya untuk merambah dunia perwasitan nasional dan internasional menjadi terbuka,” tutur Ahmad. (DEDE SUHERLAN)

Bagian 2 : Bertahun-tahun Mengabdi sebagai Guru Honorer, Dambakan Menjadi PNS

PERJALANAN Ahmad Suparman (41) bergelut dengan sepak bola, dilakoni sejak usia muda. Sebelum menekuni bidang perwasitan, dia sudah malang melintang mengolah si kulit bundar. Namun, di tengah usianya yang semakin bertambah, justru ada pikiran lain di benak mantan pemain Divisi Utama Persib, klub Bupa itu.

Dunia yang berhubungan dengan sepak bola, memang tak bisa dipisahkan dari Ahmad Suparman. Sejak usia belasan tahun, pria kelahiran Jatinangor, Sumedang, 9 Agustus 1971 itu, sudah bermain di Divisi Utama Persib. Mulai 1991 sampai awal tahun 2000-an, Ahmad bermain di klub Bupa.

Tak hanya itu, karena bakatnya terlihat sudah menonjol, tim sepak bola Kabupaten Sumedang, tak ragu-ragu untuk memasukkan Ahmad dalam skuad yang berlaga dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat, di Tasikmalaya, pada 1990 lalu.

“Saya sangat mencintai sepak bola. Dalam olahraga ini, saya menemukan suasana yang berbeda. Melalui sepak bola, hati saya terus bahagia. Selain itu, tubuh saya pun tetap bugar dan sehat,” kata pria yang juga menjadi wasit cabang olahraga futsal dalam Sea Games, di Jakarta, November 2011 lalu.

Ternyata, di balik prestasi yang diraih Ahmad dalam dunia persepakbolaan, mulai dari pemain hingga menjadi wasit, ada sesuatu yang menggelitik yang mewarnai kehidupan pria asli Jatinangor ini. Kendati Ahmad malang melintang di bidang sepak bola, namun dalam aktivitasnya sebagai guru, keberadaan pengajar yang satu ini justru memprihatinkan. Hingga kini, dia masih berstatus sebagai guru olahraga honorer di SDN Ciawi, Kecamatan Jatinangor.

“Saya menjadi guru honorer sejak tahun 2005. Inginnya sih saya diangkat menjadi guru PNS (pegawai negeri sipil),” kata Ahmad singkat.

Keinginan Ahmad untuk menjadi guru PNS, diamini oleh guru SDN Sinarjati, Jatinangor, Iwa Cahya (47). Bagi guru yang sebelumnya pernah bermain di Persib itu, hasrat Ahmad agar menjadi PNS merupakan keinginan yang wajar.

“Pak Ahmad sudah bertahun-tahun menjadi guru honorer. Bahkan, dengan profesinya yang digeluti selama ini, telah mengharumkan nama Sumedang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Sangat wajar jika Pemkab Sumedang menghargai prestasi yang diraih oleh Pa Ahmad  dengan mengangkatnya menjadi guru PNS,” kata Iwa.

Dikatakan mantan pemain Maung Bandung yang seangkatan dengan Nandang Kurnaedi, Erick Ibrahim, Kekey Zakaria, Roy Darwis, dan Asep Poni itu, dia tahu betul perjalanan karier Ahmad, sejak jadi pemain hingga menjadi wasit nasional dan wasit futsal FIFA.

“Saya yang mengarahkan saat Pa Ahmad masih bermain bola agar bermain di Perses (Persatuan Sepakbola Sumedang). Dia membawa nama baik Sumedang sejak jadi pemain sampai menjadi wasit,” ujarnya.

Sedangkan Usep Mulyana (46), guru SDN Mekarsari, mengungkapkan, sesama guru olahraga di Kecamatan Jatinangor, mendukung jika Ahmad Suparman diangkat menjadi guru PNS.

“Prestasi Pa Ahmad untuk mengharumkan nama Sumedang sangat menonjol,” kata Usep. (DEDE SUHERLAN)

sumber : jabartoday

 

Ahmad Suparman (tengah), guru SDN Ciawi, Jatinangor yang juga berprofesi sebagai wasit sepak bola nasional dan wasit futsal FIFA,bersama Iwa Cahya, guru SDN Sinarjati, Jatinangor (kiri) dan Usep Mulyana, guru SDN Mekarsari, Jatinangor (kanan). (DEDE SUHERLAN/JABARTODAY.COM)