Akibat Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Pembangunan RSS Terancam

by -34 views

Akibat Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Pembangunan RSS Terancam

Jatinangorku.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika mulai mempengaruhi sektor properti di Tanah Air. Kondisi ini membuat para developer kesulitan mengembangkan rumah sederhana bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat, Yana Mulyana mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah sangat memengaruhi sektor properti. Harga bahan baku seperti semen dan besi beton yang naik, bahkan diperparah dengan tidak adanya regulasi dari pemerintah yang berpihak pada pengembang. Sehingga pembangunan rumah bagi MBR menjadi stagnan. 

“Krisis sekarang ini membuat para pengembang serbasalah. Di satu sisi harus mengembangkan rumah MBR, tapi tidak ada keberpihakan pemerintah, ditambah krisis saat ini, semua jadi semakin sulit,” jelasnya. 

Saat ini rumah sederhana MBR tipe 36 dipatok dengan harga Rp 88 juta/unit. Menurutnya, harga tersebut sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang ditambah kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, ditambah melemahnya nilai tukar rupiah. 

“Pengembang kesulitan membangun rumah MBR. Mestinya pemerintah memberikan insentif, baik untuk jaringan listrik ataupun fasilitas lainnya. Sehingga pengembang kembali bergairah,” jelasnya.

Saat ini beban para pengembang MBR cukup berat menyusul kenaikan harga bahan baku dan harga tanah. Sehingga peran pemerintah sangat penting. 

Krisis saat ini pun membuat penjualan rumah MBR terkoreksi. Sebelumnya REI Jabar menargetkan penjualan rumah MBR tahun ini sebanyak 80.000 unit. Tetapi kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu membuat target penjualan direvisi menjadi 60.000 unit. 

“Dan sekarang dengan melemahnya nilai tukar rupiah target penjualan kembali direvisi menjadi 40.000 unit. Saat ini penjualan rumah MBR sendiri sudah mencapai 23.000 unit,” katanya. 

Kini pengembang cenderung menunggu dan menghabiskan stok rumah MBR sebanyak 5.000 unit dari sekitar 45.000 unit tahun lalu. Akibatnya backlog di Jabar meningkat menjadi 3 juta unit. “Dengan kondisi ini, rekan-rekan butuh cashflow bukan stok,” katanya. 

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga berimbas kepada sektor otomotif. Para agen tunggal pemegang merk (ATPM) pun kini mulai mengantisipasi kondisi tersebut dengan melakukan penyesuaian harga produk.

Seperti yang diungkapkan Anton Jimmy, Marketing Division Head PT Toyota Astra Motor (TAM). Namun, kondisinya tidak seburuk seperti krisis ekonomi pada tahun 1997.

“Kondisinya berbeda. Meski demikian, ini bisa memicu terjadinya penyesuaian harga, tidak menutup kemungkinan harga jual mobil akan naik,” jelas Anton

Sumber : http://klik-galamedia.com