Ancaman Kekeringan di Jatinangor, Petugas UPTD Masih Mendata

by -72 views


JATINANGOR (GM) – Petugas UPTD Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang masih mendata lahan pertanian yang terancam kekeringan.

Demikian disampaikan Kepala UPTD Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, Kec. Jatinangor, Ir. Amir Syafiudin melalui stafnya, Komar saat dikonfirmasi “GM” di ruang kerjanya, kantor Kecamatan Jatinangor, Kamis (5/7).

Menurut Komar, saat ini belum diketahui berapa luas lahan pertanian yang terancam kekeringan. “Saat ini sejumlah petugas masih melakukan pendataan di lapangan. Hanya jika ada ancaman kekeringan, aparat desa langsung melaporkannya pada pihak UPTD Pertanian,” katanya.

Menurut Komar, Jatinangor sebelumnya (tahun 1980) mempunyai lahan pertanian mencapai 700 hektare, kini tersisa 371 hektare. Dari 12 desa di Jatinangor, Desa Hegarmanah masih memiliki lahan pertanian 80 hektare, Cisempur 67 hektare, Cileles 58 haktare, Cilayung 45 hektare, dan Desa Jatimukti 35 hektare.

Dikatakan Komar, semakin menyempitnya lahan pertanian di Jatinangor memicu keprihatinan lain. “Pasalnya lahan pertanian yang masih tersisa umumnya milik orang berduit dari luar Jatinangor. Orang Jatinangornya hanya jadi petani penggarap alias buruh tani,” katanya.

Turun tangan

Sementara itu, terkait puluhan hektare lahan pertanian di tiga kecamatan di wilayah timur Kab. Bandung yang terancam kekeringan, petugas dari dinas terkait telah rutun tangan. Ancaman kekeringan tersebut akibat kurangnya pasokan air.

Sebagian padi yang sudah berusia satu bulan kini mulai terlihat memerah dan terancam mati. Bahkan lahan pertanian pun sudah mulai banyak yang retak-retak. Jika tidak buru-buru diselamatkan, para petani akan terancam gagal panen (puso). Ketiga kecamatan yang rawan terancam kekeringan itu adalah Kec. Cikancung, Cicalengka, dan Kec. Nagreg.

“Solusi untuk menanggulangi lahan pertanian yang terancam gagal panen itu, bisa dilakukan pompanisasi. Tetapi itu juga jika masih ada persediaan air di sungai atau selokan. Saat ini kami telah turun tangan untuk menanggulanginya,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengendali Program Penyuluhan Wilayah Cikancung, Kab. Bandung, Rahmat Mulyana.

Dalam hal ini, kata Rahmat, wilayah Cikancung mengalami kekurangan peralatan pompanisasi sehingga harus mendapat pasokan.

 

sumber : klik-galamedia