Angka Perceraian di Sumedang Tinggi, Kemenag Gencar Lakukan Sosialisasi Pranikah

by

Angka perceraian di Kabupaten Sumedang relatif tinggi, yakni 3.000 kasus cerai. Untuk menekan tingginya angka perceraian tersebut, Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumedang gencar melakukan sosialisasi dan bimbingan perkawinan pranikah.

Bimbingan diberikan pada para calon pengantin, termasuk kalangan mahasiswa. Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kemenag Kabupaten Sumedang, Ma’mun, menjelaskan perceraian yang mencapai 3.000 kasus itu terjadi dalam setahun.

“Dari 11.000 perkawinan yang terdaftar di KUA (Kantor Urusan Agama) se-Kabupaten Sumedang dalam setahun, sekitar  3.000 perkawinan berakhir dengan perceraian,” kata Ma’mun, Selasa 20 November 2018.

Menurut dia, tingginya angka perceraian tersebut pada umumnya disebabkan oleh faktor ekonomi dan pernikahan dini. Dalam kasus perceraian akibat faktor ekonomi, rata-rata diakibatkan karena suami atau kepala keluarganya tidak memiliki pekerjaan alias menganggur,  sehingga tidak mampu menafkahi anak dan istrinya.

“Ada juga kasus, suaminya menganggur, sedangkan istrinya bekerja bahkan berpenghasilan besar. Karena istrinya yang membiayai semua kebutuhan hidup keluarganya, sehingga dia menggugat cerai suaminya,” ujarnya.

Ia mengatakan, selain karena faktor ekonomi, tingginya angka perceraian itu pun disebabkan oleh dampak pernikahan dini. Bukan hanya usia yang belum matang, pasangan yang bercerai ini juga belum memiliki pengetahuan luas untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, disebutkan bahwa usia perkawinan untuk laki-laki minimal 19 tahun dan wanita 16 tahun. 

“Dengan usia perkawinan di atas 20 tahun, pasangan suami istri dinilai sudah cukup dewasa untuk berumah tangga,” tuturnya.

Hak dan kewajiban

Menurut Ma’mun, saat menjalani bimbingan dalam sosialisasi yang dilakukan pihaknya, para calon pengantin yang akan menikah diberi pengetahuan terkait materi pernikahan sesuai tuntunan agama.

“Diawali dengan niat dan tujuan menikah, hanya untuk ibadah kepada Allah SWT. Pasangan suami istri juga harus mengerti dan melaksanakan masing-masing hak dan kewajibannya,” katanya.

Ia melanjutkan, kewajiban suami atau kepala keluarga bukan hanya sekedar memberi makan dan minum saja, melainkan juga mendidik anak dan istrinya. Istri pun, sambungnya, diminta untuk tidak lupa akan hak serta kewajibannya terhadap suami dan anak-anaknya. 

“Walaupun istrinya bekerja bahkan mempunyai penghasilan yang lebih besar dari suaminya, tapi jangan lupa hak-hak suaminya,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketika usia perkawinannya sudah lama dan dikaruniai anak, mereka harus bersama-sama mendidik anak-anaknya agar memiliki akhlak yang baik. Setiap pasangan, harus menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas yang bisa berdampak buruk terhadap prilaku ketika beranjak remaja dan dewasa. 

“Sampai-sampai ada anak tanpa ayah, ketika sudah besar melahirkan anak yang juga tanpa ayah. Kasus seperti itu banyak terjadi di zaman sekarang ini. Makanya peran orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak-anaknya sangat penting,” tuturnya

 

 

 

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com