Aturan Terlampau Ketat, Pedagang Tembakau Mole Tanjungsari Mengeluh

by -125 views

Petani dan pedagang tembakau jenis mole Tanjungsari, mengeluh akibat ketatnya peraturan pemerintah saat ini. Ketatnya peraturan pemerintah tersebut, menyebabkan perdagangan tembakau khususnya di Kecamatan Tanjungsari dan Sukasari, Kabupaten Sumedang kurang bergairah.

Contohnya peraturan yang mengharuskan semua perusahaan tembakau memiliki gudang seluas 200 meter persegi. Kenyataan di lapangan, perusahaan tembakau mole di Tanjungsari dan Sukasari, umumnya tidak memiliki gudang sebesar itu.

“Mereka memproduksi tembakau, sebatas  industri  rumahan. Tembakaunya diolah di rumahnya.  Dengan adanya aturan itu, ada beberapa perusahaan tembakau yang lebih memilih berhenti berproduksi. Bisa saja sembunyi-sembunyi dari aturan tersebut, tapi mereka tidak berani berbuat seperti itu. Apalagi di sini kan ada APTN (Asosiasi Pengusaha Tembakau Nasional). Tindakan seperti itu, bisa dicek dan ketahuan oleh APTN,” ujar  Enjang Sulaeman (40) salah seorang pedagang dan pengusaha tembakau mole di Pasar Tembakau Tanjungsari, Kecamatan Tanjungsari, Senin 30 Oktober 2017.

Peraturan lainnya, kata dia, rencana pemerintah yang akan menaikkan cukai tembakau tahun 2018. Sekarang ini, cukai tembakau Rp 30 per gram. Rencananya, tahun depan akan dinaikkan lagi. Jika cukai tembakau jadi dinaikkan, jelas dampaknya akan memberatkan para pelaku usaha tembakau, termasuk para petani.  “Namun, saya belum tahu kenaikannya berapa,” ucap dia.  

Petani tembakau mole kian kesulitan

Menurut Enjang, kondisi pedagang dan petani tembakau semakin terjepit. Terlebih sebelumnya,  perdagangan tembakau di Kabupaten Sumedang khususnya di Tanjungsari, mengalami penurunan signifikan. Kondisi itu, imbas gencarnya berbagai iklan peringatan tentang bahaya rokok oleh pemerintah. Peringatan tersebut, pengaruhnya sangat besar terhadap penjualan tembakau di para pedagang,  termasuk  para petani melalui para pengumpulnya.

“Dari jumlah pedagang dan petani tembakau di Tanjungsari dan Sukasari, yang bertahan sampai sekarang hanya tinggal 40 persen. Untuk  jumlah pedagang dan petaninya, saya kurang hapal persis,” tuturnya.

Diperparah lagi,  iklan peringatan bahaya merokok pada kemasan rokok maupun tembakau, ukurannya akan diperbesar menjadi 50 persen dari kemasan. Kalau sekarang, iklan peringatannya masih relatif kecil hanya sekitar 25 persen.

“Nah nanti, gambar peringatannya akan diperbesar lagi sampai setengahnya. Dengan seperempat kemasan saja, sudah menurunkan penjualan, apalagi sampai setengahnya,” ujar dia.

Lebih jauh Enjang menilai, ketatnya peraturan pemerintah hingga cenderung melemahkan pertanian maupun perdagangan tembakau lokal. Sementara tembakau impor terus mengalir masuk ke Indonesia.

Meski demikian, ia menambahkan, di tengah ketatnya peraturan perdagangan tembakau, para petani dan pengusaha tembakau se-Indonesia  tak surut dengan impor tembakau. Mereka akan mengadakan “Gelar Produk dan Pameran Tembakau Nasional” tahun 2017 di Pasar Tembakau Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, 15-22 November nanti.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com