Bang Jack, Bertahan di Tengah Cibiran

by -311 views
Bang Jack, Bertahan di Tengah Cibiran
Bang Jack, Bertahan di Tengah Cibiran

jatinangorku.com – BANG Jack, begitu kalangan mahasiswa Fikom Unpad di Jatinangor, mengenal Undang Suryaman. Ikhlas mengelola sebuah taman kanak-kanak. Bermodal hasil dari juru parkir.

Bagi mahasiswa atau alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, nama Bang Jack sudah tak asing lagi. Dia bukan seorang dosen, dekan, apalagi petinggi di rektorat universitas ternama itu meski sehari-hari dia menghabiskan waktu di kampus Jatinangor itu. Bang Jack harus rajin menyambangi Kampus Unpad karena dia jadi juru parkir di sana.

Bang Jack, Bertahan di Tengah Cibiran
Bang Jack, Bertahan di Tengah Cibiran

Sosoknya ceria, mudah bergaul dan dikenal oleh mahasiswa, dosen, dekan dan petinggi kampus Fikom Unpad. Tidak hanya itu, dia juga selalu menjadi inspirasi bagi orang-orang sekitarnya, tak terkecuali bagi mahasiswa.

Keceriaan itu sudah terlihat di pagi dengan cuaca yang masih dingin itu. Bang Jack sudah terbangun dari tidurnya. Sekitar pukul 07.00 WIB pagi, Bang Jack sudah harus melakukan aktivitasnya. Langsung dia meluncur ke Gedung Fikom Unpad.

Sesampainya di sana, Bang Jack mulai mengatur setiap mobil yang akan masuk. Satu-persatu ia arahkan untuk parkir agar terlihat rapi dan tidak parkir di sembarang tempat.

Sesekali ia duduk sambil minum kopi. Kerap tak lama dia bisa menikmati kopinya. Sebab, sejurus kemudian, mobil datang lagi, entah itu mobil mahasiswa, dosen atau yang lainnya. Bang Jack tahu tugasnya. Dia kembali membantu pengendara mobil yang akan masuk ke area gedung Fikom Unpad itu.

Tak pernah semangatnya pudur. Begitu mobil terparkit, dia sudah melambaikan tangan ke arah mobil lain yang akan parkir. Suara Bang Jack pun terdengar cukup lantang. “Terus…, terus…, stop…!” begitu teriaknya.

Itulah keseharian Jack pria asal Garut ini. Sederhana dan tulus. Tapi, soal angan dan mimpi, Bang Jack tak sesederhana itu. Siapa sangka, di balik posisinya yang ‘hanya’ seorang tukang parkir “sejak 1995, Bang Jack sudah memiliki taman kanan-kanan (TK) dan tempat pengajian al-Quran (TPA) di seputaran rumahnya di Kampung Babakan Loa RT 03 RW 12, Rancaekek Kulon, Kabupaten Bandung.

“Ya, saya memang punya TK dan TPA. Namanya Raudatul Jannah. Itu adanya di daerah rumah saya. Saya mendirikannya empat tahun lalu. Di kampung saya banyak orang-orang yang tidak bersekolah karena faktor ekonomi,” kata Bang Jack kepada INILAH saat ditemui di area parkir Gedung Fikom Unpad Jatinangor, Rabu (30/3).

Bukan tanpa alasan ayah yang sudah dikaruniai empat orang anak ini mendirikan TK dan TPA yang ia bangun bersama istrinya ini. Kata dia, ia ingin anak-anak di seputaran rumahnya bisa sekolah dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Kendati TK ini berbayar hanya sebagai Infaq saja, Bang Jack mengaku keberadaan TK ini bukan untuk menjadi ajang bisnis semata. Lebih jauh ia ingin anak-anak atau generasi penerus bangsa ini memiliki semangat tinggi untuk belajar tanpa mengeluarkan biaya yang besar.

“Iya memang ada, tapi untuk infaq. Itu pun satu bulan hanya Rp25 ribu untuk TK. Kalau TPA mah gratis,” katanya.

Bang Jack pun berkisah. Dulu, ingin sekali dia bersekolah, mengenyam bangku pendidikan. Tapi, orangtuanya tak mampu membiayainya. “Saya tidak mau anak-anak sekarang putus sekolah karena biaya mahal. Saya ingin mereka punya cita-cita, jangan seperti saya yang hanya lulusan SD,” paparnya.

Sementarara untuk fasilitas dan keperluan di sekolahnya itu, dikatakan Bang Jack, banyak orang yang peduli dan membantu menyumbang. Selain dari alumni mahasiswa Fikom Unpad, ada pula dari masyarakat umum.

“Biayanya ya dari saya. Tapi ada juga bantuan dari mahasiswa dan masyarakat. Sekarang yang kita butuhkan buku dan al-Quran. Kalau tenaga pengajar guru TK ada empat, TPA ada delapan guru. Mereka sukarela,” katanya.

TK Raudatul Jannah sendiri menggunakan kurikulum umum. Yang pertama ia ajarkan kepada anak-anak ialah mengenai ajaran al-Quran, salat berjamaah. Setelah itu pelajaran Iqro, belajar bikin huruf, menulis dan lainnya layaknya anak-anak TK pada umumnya.

“Kalau TK ini belajarnya dari jam 08.00 WIB sampai 11.00 WIB. Kalau TPA di bagi tiga bagian, ada pagi, sore dan malam sesuai tingkatan sekolah anak-anak. Jumlah siswa TK ada 56 dan TPA 100 siswa,” ucapnya.

Kendati TK yang ia dirikan ini sudah berjalan dengan baik, diakui Jack, tak sedikit orang-orang yang mencemooh dan mencibir dengan idenya itu. Terlepas dari itu semua, dia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang memandang sebelah mata terhadap dirinya itu.

“Banyak yang berpikir macam-macam ke saya. Ada yang bilang kamu ini siapa? Di rumah juga kekurangan, malah bikin sekolah. Kritikan itu saya jadikan tambahan semangat saja buat saya,” tuturnya.

Kritikan dan pandangan miring terhadap Jack, ia jadikan bumbu semangat untuk terus menjalankan niat tulusnya ini dengan mengelola dan memajukan anak-anak yang ia bina di TK dan TPA itu.

“Orang-orang yang mencibir saya itu orang kaya, berilmu, dan lainnya. Kenapa saya bertahan seperti ini, justru saya bertahan dari cibiran mereka. Saya belajar dari kritik mereka juga. Saya ingin membuktikan, walaupun saya tidak bersekolah, saya ingin berbagi sama orang lain. Kebahagian bukan diukur dari materi saja, Alhamdulillah saya bahagia dengan hidup saya ini, terutama dengan keluarga,” paparnya.

Dia berharap, apa yang dia lakukan ini bisa bermanfaat bagi orang lain dan anak-anak yang ia bimbing bisa berguna bagi masyarakat. Selain itu, TK dan TPA yang ia rintis bisa memiliki tempat yang layak untuk belajar sehingga anak-anaknya bisa belajar dengan nyaman.

“Untuk sekarang tempat belajarnya di rumah mertua saya,” pungkasnya. (ing)

sumber : inilahkoran