Bantuan Anggaran Pemprov takkan Terserap Seluruhnya Tahun Ini

by -31 views

Jatinangorku.com – Bantuan anggaran dari Pemprov Jabar untuk membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum dan fasos) berupa pemasangan listrik dan penyedian air bersih di tempat relokasi warga terdampak pembangunan Waduk Jatigede, dipastikan tidak akan terserap seluruhnya tahun ini. Padahal, pemasangan listrik dan penyediaan air bersih itu merupakan kebutuhan vital yang harus tersedia di tempat relokasi.

Ketika pemasangan listrik tidak bisa dilakukan tahun ini, dampaknya warga Jatigede yang sudah pindah ke tempat relokasi terpaksa harus mengandalkan penerangan lampu cempor atau lampu tempel di rumahnya. Kecuali, Pemkab Sumedang mau menyediakan genset berikut bahan bakar solarnya untuk menyalakan lampu di rumah warga Jatigede.

Tak hanya itu saja, sebagian besar warga Jatigede pun terancam kesulitan air bersih di daerah relokasi karena bantuan anggaran untuk membangun sumur dalam untuk penyediaan air bersih, tidak akan terserap tahun ini.

Pasalnya, projek pengerjaan sumur dalam harus dilelangkan. Sementara waktu yang tersisa tinggal dua bulan lagi sampai akhir tahun, sehingga tidak mungkin dilakukan pelelangan projek.

Kendala lainnya, anggaran pembuatan sumur dalam hanya Rp 2,1 miliar. Anggaran tersebut dinilai tidak cukup untuk membuat sumur dalam di enam tempat relokasi.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Sumedang H Eka Setiawan ketika ditemui di rumah dinasnya di Jalan Prabu Geusan Ulun, Selasa (3/11/2015), membenarkan ada beberapa pekerjaan dalam pembangunan fasum dan fasos yang ditunda dulu karena waktunya sangat terbatas.

Pekerjaan itu, pemasangan listrik dan penyediaan air bersih di beberapa tempat relokasi. Mengingat ada beberapa pekerjaan yang ditunda, sehingga bantuan anggaran dari Pemprov Jabar untuk membangun fasum dan fasos Rp 23 miliar, tak bisa diserap seluruhnya tahun ini. “Namun, saya belum tahu persis berapa rincian anggaran yang bisa diserap dan yang tidak tahun ini?” katanya.

Meski demikian, kata Wabup Eka, ada juga beberapa pekerjaan yang bisa dibangun tahun ini, seperti pembangunan RKB (ruang kelas baru) di enam titik daerah relokasi, jalan desa di Desa Pakualam, Kecamatan Darmaraja serta penyediaan air bersih yang menggunakan sambungan pipa. “Sekarang lagi dibangun. Mudah-mudahan, pembangunannya selesai 2-3 bulan ke depan,” tuturnya.

Guna mengantisipasi daerah relokasi warga Jatigede yang tak bisa dipasang listrik tahun ini, kata dia, tak menutup kemungkinan Pemkab Sumedang akan membantu penyediaan genset berikut bahan bakarnya. Bantuan itu, supaya warga bisa menikmati penerangan lampu di rumahnya, tanpa harus memasang lampu cempor atau lampu tempel.

“Ya bisa saja, kami membantu genset untuk penerangan lampu di daerah relokasi. Kami juga akan memikirkan solusi bagi daerah relokasi yang belum bisa menikmati air bersih dari pengerjaan sumur dalam. Saya nanti akan mengevaluasi semua kegiatan pembangunan fasum dan fasos yang dilaksanakan oleh SKPD (satuan kerja perangkat daerah) terkait,” ujar Eka.

Dikatakan, Pemkab Sumedang akan berupaya seoptimal mungkin untuk memenuhi semua kebutuhan warga Jatigede yang sudah pindah ke tempat relokasi.

“Saya akan all out membantu pemindahan dan penyediaan fasum dan fasos untuk warga Jatigede. Terlebih bantuan anggaran dari Pemprov Jabar untuk pembangunan fasum dan fasos, sebagai wujud perhatian dan kebaikan Pak Gubernur. Sebab, melalui pemberian uang kompensasi dan santunan dari pemerintah pusat, semua hak-hak warga terdampak Jatigede sudah terpenuhi,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanahan dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Sumedang Surrys Laksana Putra mengatakan, dari beberapa tempat relokasi warga Jatigede, hanya di Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja yang bisa dipasang listrik sampai ke rumah-rumah warga sebanyak 128 KK (kepala keluarga).

Sementara daerah relokasi lainnya, seperti di Desa Pakualam dan Karangpakuan Kecamatan Darmaraja dan Cacaban di Kec. Conggeang, tak bisa dipasang listrik tahun ini. Pasalnya, di beberapa daerah relokasi itu belum ada jaringan menengah (TM).

“Kendala lainnya, di beberapa lokasi masih banyak warga yang belum pindah dan membangun rumah barunya sehingga sulit untuk melakukan pendataan kebutuhan pemasangan listriknya,” ujar Surrys.

Pemasangan listrik di tempat relokasi, lanjut dia, tak bisa tergesa-gesa. Dengan waktu yang tinggal dua bulan lagi sampai akhir Desember, tidak memungkinkan untuk melakukan pelelangan projek pemasangan listrik. Bahkan dengan anggaran bantuan provinsi Rp 1 miliar, tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pemasangan listrik di tempat relokasi.

“Oleh karena itu, pemasangan listrik ini harus berlanjut tahun depan dengan anggaran yang memadai dan waktu yang luang. Sebab, pemasangan listrik itu harus membangun jaringan TM, TR (tegangan rendah) hingga SR (sambungan rumah). Akan tetapi, pemasangan listrik ini jangan sampai lewat 2016, karena kasihan masyarakat,” katanya

Mengingat di beberapa daerah relokasi belum bisa dipasang listrik, kata dia, tak dipungkiri untuk sementara mereka terpaksa mesti memasang lampu cempor atau lampu tempel untuk penerangan rumahnya.

Kecuali, jika Pemkab Sumedang menyediakan genset berikut bahan bakarnya untuk menyalakan lampu di rumah penduduk. Hal itu, sambil menunggu pemasangan listrik di tempat relokasi.

“Sebetulnya tak masalah memakai lampu cempor juga, karena hanya sementara dan kondisinya darurat. Kalau tetap ingin memakai lampu, solusinya ya harus pakai genset. Mudah-mudahan saja, pemda bisa membantu menyediakan gensetnya,” ucap Surrys.

Tak hanya listrik saja, kata dia, pembuatan sumur dalam untuk menyediakan air bersih pun, dipastikan tidak bisa dikerjakan tahun ini.

Berdasarkan hasil pengujian geolistik (pra pengeboran untuk mengetahui posisi kedalaman air), posisi air di tempat relokasi berada di kedalaman 140 meter lebih. Karena, tempat relokasinya rata-rata di dataran tinggi.

Pembuatan sumur dalam itu, rencananya di 6 titik, di antaranya di Desa Pakualam dan Karangpakuan, Kec. Darmaraja, Desa Sukapura, Kec. Wado dan Cacaban, Kec. Conggeang.

“Untuk membuat sumur dalam di satu titik biayanya di atas Rp 300 juta, sehingga pengerjaannya harus dilelangkan. Sementara waktunya tinggal dua bulan lagi, sehingga tidak mungkin dilakukan lelang. Oleh karena itu, bantuan anggaran dari provinsi untuk pembuatan sumur dalam Rp 2.1 miliar, dipastikan tidak akan terserap tahun ini dan harus diluncurkan tahun 2016,” ujarnya

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/