Banyak Rumah dan Bangunan di Sumedang Berdiri di Bibir Sungai

by -13 views

Jatinangorku.com – Rumah, pertokoan, dan bangunan lainnya yang berada di pinggir sungai di wilayah perkotaan Sumedang, masih banyak yang dibangun tepat di bibir sungai.

Kondisi itu melanggar Peraturan Gubernur Jabar No. 8 tahun 2005 tentang Sempadan Sumber Air. Selain melanggar pergub, juga bisa menimbulkan longsor.

Bangunan rumah dan toko yang dibangun tepat di bibir sungai di wilayah perkotaan, seperti terjadi di sepanjang aliran Sungai Cipanyirapan di perbatasan Desa Mekarjaya dan Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara. Bahkan akibat pendirian bangunan tersebut, lebar Sungai Cipanyirapan yang asalnya 10 meter, kini menyempit menjadi 5 meter.

“Dalam Pergub No. 8 tahun 2005, ada yang dinamakan garis sempadan sungai. Garis sempadan sungai di wilayah perkotaan ditentukan jaraknya 10 meter dari bibir sungai. Sementara di perkampungan, 15 meter dari bibir sungai. Nah, kalau ada yang membangun rumah, toko atau bangunan lainnya, harus di luar garis sempadan sungai. Jika ada rumah atau bangunan lainnya yang dibangun tepat di bibir sungai, berarti melanggar pergub,” ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Sumedang, Sujatmoko ketika ditemui usai rapat di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sumedang, di kawasan perkantoran pemda Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Pemkab Sumedang, Selasa (15/12/2015).

Sujatmoko mengatakan, apabila ada rumah, toko dan bangunan lainnya yang dibangun tepat di bibir sungai, harus ditertibkan Satpol PP.

Hanya saja, dalam penertibannya dirasakan akan sulit, apalagi jika bangunannya dibongkar. Sebelum dilakukan pembongkaran, terlebih dahulu harus melihat riwayat tanah beserta sertifikatnya.

Sebab, meski dalam pergub dinyatakan garis sempadan sungai di perkotaan 10 meter dari bibir sungai, bukan mustahil jika status tanahnya sampai ke bibir sungai semuanya milik warga. Apalagi jika sertifikat tanahnya dibuat sebelum pergub diberlakukan.

“Kalau tanahnya sampai ke bibir sungai milik warga, jelas bangunannya tidak bisa dibongkar. Pemda hanya bisa membongkar, apabila ada bangunan di sempadan sungai yang tanahnya sudah milik pemda. Jadi, cukup sulit untuk membongkar rumah atau bangunan yang sudah kadung dibangun di bibir sungai,” katanya.

Menurut dia, guna menyelamatkan sempadan sungai dari maraknya pembangunan rumah dan bangunan lainnya di bibir sungai, mau tak mau Pemkab Sumedang harus membebaskan tanah sempadan sungai.

Ketika ada warga yang membangun rumah atau bangunan lainnya di sempadan sungai, baru lah Satpol PP bisa leluasa melakukan pembongkaran.

“Pembebasan lahan sempadan sungai oleh pemda, contohnya di Bandung dan Jakarta. Jadi, ketika ada bangunan di sempadan sungai, bisa langsung dibongkar,” ujar Sujatmoko.

Menyinggung rumah yang masih dibangun hancur terbawa longsor di pinggir Sungai Cipanyirapan di Jalan Parigi Lama, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sumedang Utara, Sujatmoko mengatakan, pembangunan rumah yang terbawa longsor itu, diakui tepat di bibir sungai sehingga dinilai melanggar aturan.

Selain melanggar aturan, risikonya pun bisa terkena longsor seperti yang terjadi saat ini. Apalagi rumah itu dibangun di tebing curam di pinggir Sungai Cipanyirapan.

“Ya itu lah akibatnya, kalau rumah dibangun di tebing dan di bibir sungai. Bisa mengakibatkan longsor. Oleh karena itu, saya mengimbau kepada masyarakat agar tidak membangun rumah dan bangunan lainnya tepat di bibir sungai karena sangat berbahaya bagi keselamatan mereka juga,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Asep salah seorang pegawai bangunan mengatakan, rumah bagian belakang yang sedang dibangunnya itu, hancur terbawa longsor hingga nyaris menutupi aliran Sungai Cipanyirapan.

Longsor tersebut terjadi pada Senin (14/12/2015) pagi sekira pukul 7.00. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam bencana alam tersebut, karena saat itu para pegawai belum datang ke lokasi bencana. Rumah tersebut milik Yayat yang dibangun dua lantai dengan menguruk tebing di pinggir sungai.

“Ketika saya dan pegawai lainnya datang untuk melanjutkan pekerjaan membangun rumah ini, tahu-tahu bangunan belakang sudah hancur terbawa longsor. Padahal, bangunannya yang sudah dipasang tembok bata dan fondasi batu,” ujarnya.

Longsor itu, kata dia, dipicu hujan besar yang terjadi Minggu (13/12/2015) malam. Kemungkinan, fondasi yang dipasang di bibir sungai tak kuat menahan beban urukan tanah ditambah resapan air hujan hingga akhirnya ambruk dan hancur terbawa longsor ke aliran Sungai Cipanyirapan.

“Kalau sudah begini, ya harus membangun dari nol lagi. Longsoran tanah urukan bercampur bahan material batu fondasi dan bata merah, sebagian terbawa hanyut. Ini mah murni bencana alam. Sebelum longsor, fondasi batunya memang sudah ada yang retak-retak, pengaruh hujan besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini,” kata Asep.

Jika menghitung kerugian, kata dia, diperkirakan mencapai sekitar Rp 80 juta. Tanah urukan untuk meratakan tebing saja, sebanyak 40 dum truk.

Kebutuhan tanah urukan sebanyak itu, karena tebingnya cukup curam dengan ketinggian sekitar 15 meter dari bibir sungai sampai ke jalan aspal di Jalan Parigi Lama.

“Longsor yang menutupi aliran sungai, sebagian akan kami bersihkan untuk membuka jalan aliran sungai,” ucapnya

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/