Bayi Dibuang di Jatinangor, KPAI: Apapun Alasannya, Tak Bisa Dibenarkan

by

Penemuan bayi perempuan di Dusun/Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Rabu (2/1/2019) malam, menggegerkan warga.

Kapolsek Jatinangor Kompol Nur Jamil menuturkan, bayi itu ditemukan pertama kali oleh Kemas Duga Muis di dalam tas berwarna merah, tak jauh dari rumahnya. Kemas lalu memberitahukannya kepada istrinya, Azriani Intan.

Kapolsek menjelaskan, saat ditemukan, di dalam tas merah juga terdapat 3 setel baju, 4 popok, 5 buah drypant dan perlengkapan bayi lainnya.

“Juga terdapat sehelai kertas yang yang berisi tulisan Putri Hanifah 31 Desember 2018, semoga kebaikan orang yang merawat anak kami diberi rezeki dan kesehatan, amin ya Allah,” ungkapnya.

Untuk sementara, bayi tersebut dirawat di rumah Kepala Desa Cikeruh Ja’i.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan, apapun alasan orang tua membuang atau melantarkan anaknya, KPAI dengan tegas menyatakan bahwa langkah itu tidak benar.

“Kasus pembuangan bayi di sejumlah kota masih sering terjadi, dengan beragam motif. Apa pun alasannya, pembuangan bayi itu sama sekali tak bisa dibenarkan,” ujarnya, ketika dihubungi ruber, Kamis (3/1).

Menurut dia, ada beberapa alasan yang membuat orang tua tega membuang anak. Di antaranya adalah faktor ekonomi dan rasa malu karena bayi itu merupakan hasil hubungan tidak sah.

“Saya rasa, hubungan tidak sah itu variatif. Bisa karena hubungan asmara remaja yang kebablasan, PSK yang melahirkan anak dari hubungan dengan pelanggannya, karena perkosaan, dan sebagainya,” jelas Susanto.

Mencermati fakta mengenai hubungan tidak sah, Susanto tidak mengartikan hal itu hanya terjadi dalam pergaulan bebas.

“Jadi, di sini terminologinya bukanlah pacaran, melainkan lebih pada cara orang tua dalam menanamkan moral dan membimbing putra putrinya dalam mencari pasangan yang tepat,” tandasnya

 

 

Sumber : https://ruber.id