Bencana di Sumedang Pengunjung ke Posko Longsor Sumedang Tak Terkendali, Istirahat Pengungsi Terganggu

by -143 views

GOR Tadjimalela yang dijadikan posko bencana tanah longsor Ciherang-Cimareme tak mampu lagi menampung para pengunggsi. Saat ini di GOR Tadjimalela yang beradi di Kelurahan Kotakulon, KecamatanSumedang Selatan sudah menampung 1.118 jiwa.

Apalagi saat ini warga sekitar kawasan Anjungtirta tak jauh dari Cimareme juga diungsikan. Jumlah pengungsi mencapai 300 orang lebih dan ditempatkan di Markas Kodim 0610 Sumedang. “Pergerakan tanah terus terjadi di kawasan Anjungtirta dan untuk mencegah terjadi longsor serta ada korban jiwa, warga disana dievakuasi dan mengungsi di Markas Kodim,” kata Komandan Kodim 0610, Letkol Infantri FX Sri Weliyanto, Sabtu (24/9).

Menurutnya, langkah antisipasi harus dilakukan karena pergerakan tanah terjadi terus serta hujan terus mengguyur. “Kami evekuasi warga Anjungtirta dan karena di GOR Tadjimalela tak bisa menampung maka Markas Kodim jadi posko jugam” katanya.
Banyaknya pengungsi di GOR Tadjimalela berbaur dengan warga yang akan memberikan sumbangan. Para donatur tak jarang datang berombongan dan memilih masuk ke dalam GOR tempat para pengungsi tinggal dan beristirahat. Para pengunjung yang datang ke lokasi pengungsian di GOR Tajimalela sudah mulai tak terkendali.

Kepala Dinas Kesehatan, Retno Ernawati meminta petugas di Posko membuat aturan ketat yang membatasi kehadiran mereka. “Para pengungsi saat ini merasa terganggu dengan begitu banyaknya tamu yang hadir untuk menengok dan memberi bantuan secara langsung. Pengungsi butuh waktu untuk beristirahat. Mereka juga memerlukan waktu-waktu sendiri untuk privasi. Kehadiran tamu yang terus-menerus telah mengganggu waktu mereka,” katanya, Sabtu (24/9).

Ia mengusulkan agar para pengunjung sebaiknya dibatasi atau dikendalikan dengan menugaskan beberapa orang berjaga di pintu masuk dan keluar GOR. “Nanti akan diseleksi mana yang benar-benar urgen untuk masuk. Jangan seperti sekarang yang seolah-olah siapapun boleh masuk. Padahal tidak sedikit hanya sekedar untuk foto selfi dan tidak memberikan kontribusi apapun,” katanya.
Bagi para donatur yang akan menyumbangkan bantuan, lanjutnya, cukup diterima oleh para petugas yang standby di depan pintu masuk. “Serah terima bantuan cukup dilakukan di dalam, tak usah beramai-ramai ikut masuk. Cukup perwakilannya saja,” katanya.
Menurutnya, banyaknya pengunjung menjadikan resiko penularan penyakit semakin tinggi mengingat mobilitas manusia yang tinggi pula. “Para pengunjung bisa saja membawa penyakit dan menularkannya kepada yang di dalam atau sebaliknya. Padahal diantara pengungsi banyak balita yang rawan terhadap penyakit,” katanya.