Budi Daya Kencur Sumedang Kuasai Pasar Nasional

by -13 views

Budi Daya Kencur Sumedang Kuasai Pasar Nasional

Jatinangorku.com – Kencur hasil budi daya petani di Desa Jingkang, Kertamukti, Cikaramas dan Tanjungmedar, Kec. Tanjungmedar, Kab. Sumedang, sangat disukai produsen jamu, obat tradisional, kosmetik, dan penyedap makanan di Tanah Air.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun “GM”, Sabtu (31/5), setiap musim panen tiba, sejumlah truk dengan berbagai plat nomor dari luar daerah, terparkir di kebun kencur milik petani setempat. Mereka adalah bandar besar yang memborong kencur dari wilayah tersebut. 

“Kencur yang dibudidayakan petani di sini kualitasnya bagus dan tidak sulit untuk memasarkannya. Apalagi sudah sejak lama, bandar besar dari berbagai daerah di Tanah Air, selalu memburu ke sini, saat musim panen tiba,” kata Kamsu, Kepala Desa Jingkang.

Menurutnya, lebih dari 100 hektare kebun tanaman kencur dan setiap saat terus bertambah. Perluasan areal tanam itu terjadi mengingat keuntungan dari budi daya kencur sangat menggiurkan. Sebab dengan rata-rata biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp 50 juta/hektare, petani bisa meraup untung hingga Rp 150 juta. 

Terserang bakteri

Sayangnya, lanjut Kamsu, pada masa tanam saat ini ratusan hektare tanaman kencur terserang penyakit busuk rimpang, akibat terinfeksi bakteri pseudomonas. Bakteri itu, menyerang tanaman kencur yang baru berumur 2-3 bulan. Gejala serangan bakteri it, ditandai dengan daun yang terlihat layu, menguning, lalu mati. 

“Kami sudah berupaya untuk menangani serangan bakteri ini dengan mengunakan obat kimia, sampai cara tradisional. Sejauh ini usaha yang kami lakukan belum membuahkan hasil. Untuk itu, kami mohon kepada pemerintah bisa membantu kesulitan petani untuk menangani serangan penyakit busuk rimpang,” ujarnya.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Sumedang, Ir. Yosep Suhayat, usai meninjau kebun kencur yang terserang penyakit busuk rimpang, serangan penyakit tersebut ditandai daun menguning dan menggulung dari daun yang lebih tua, kemudian diikuti daun yang lebih muda. Lama-lama ke seluruh helai daun kuning dan mati.

Pada tahap selanjutnya, daun mudah dicabut dari bagian rimpang. Kemudian, apabila potongan tangkai daun atau rimpang ditekan atau direndam dalam air jernih, akan mengeluarkan lendir berwarna putih seperti air susu. 

“Rimpang yang busuk akan tercium berbau sangat tajam. Sedangkan pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, mekanis, biologis, dan kimiawi. Kami melalui PPL (petugas penyuluh lapangan) wilayah binaan tersebut, akan berusaha seoptimal mungkin membantu mengatasi permasalah yang sedang dihadapi petani.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/