Cibeber, Meteor Crater Pertama di Indonesia

by -23 views

Dari artikel GEOMAGZ, majalah geologi populer yang diterbitkan Badan Geologu Kementerian ESDM dari laman http://geomagz.geologi.esdm.go.id/geo-circle-majalengka-hantaman-meteorit-empat-juta-tahun-yang-lalu/ tanggal 5 September 2011 menuliskan, suatu penelitian sekilas pada Google Earth Map memperlihatkan bahwa adanya indikasi Geo- Circles. Bentuk morfologi ini pernah dipetakan secara geologi oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Bandung ditafsirkan sebagian anjakan yang melengkung.

Namun struktur geo-circles ini sulit untuk dapat dijelaskan sebagai gejala tektonik, sebagai anjakan walaupun usaha untuk menjelaskan dengan tektonik longsoran. Struktur anjakan sesar naik yang berbentuk setengah lingkaran ini menghadap ke semua arah penjuru angin, sehingga memerlukan keberadaan suatu pusat tinggian, yang justru tidak ada.
Jurus tektonik regional di sini ada mengarah barat laut – tenggara dan relatif tanpa gangguan. Justru pusat pusat geo-circles ini merupakan cekungan, antara lain Cekungan Ci Lutung, yang dapat ditafsirkan sebagai kawah raksasa yang dibentuk karena dihantam oleh suatu rentetan beberapa meteor berukuran besar.

Gejala geo-circles barat daya Majalengka ini merupakan suatu kompleks kawah meteor, dan paling tidak dapat dihitung adanya lima kawah hantaman (impact craters) yang saling bertumpukan pada citra Google Earth Map.
Dasar kawah ini ditutupi oleh batuan pasir tufaan Formasi Citalang, yang ditetapkan umurnya sebagai Pliocene, sekitar empat juta tahun yang lalu. Dengan demikian kompleks kawah meteor tersebut berumur paling tua empat juta tahun yang lalu. Keberadaan adanya multi-meteor craters di satu tempat dapat dijelaskan dengan membenturnya iring-iringan meteor yang terdiri pecahan asteroid yang menghantam bumi.

Namun demikian, penafsiran ini perlu diteliti lebih lanjut sebagai ground-check, atau pemeriksaan langsung di lapangan, terutama meneliti ulang susunan dan kandungan dari lapisan batuan yang membentuk dinding kawah-kawah ini.
Jika benar geo-circles ini adalah kawah hantaman meteor, maka ini pertama kalinya ditemukan meteor crater di Indonesia. Di negara lain seperti di Australia, Asia, Afrika, Eropa, Amerika, bahkan di Antartika, sudah banyak ditemukan gejala ini, jumlahnya sekitar seratus.

Jika seandainya benar bahwa geo-circles ini adalah disebabkan hantaman meteor, maka hal ini mempunyai konsekuensi ekonomis, karena di Mexico, suatu hantaman meteor bukan saja membentuk kawah, tetapi juga meretakkan batuan di bawahnya dan telah membentuk reservoir minyak bumi. Namun tentu ini masih sangat spekulatif.