Cikelong Alami Pendangkalan

by -11 views

Cikelong Alami Pendangkalan

Jatinangorku.com – Kondisi infrastruktur saluran air terusan Sungai Cikelong (Ciseke) sepanjang lebih dari 3 km di Kec. Cicalengka, Kab. Bandung kini sangat buruk. Hal itu dikeluhkan masyarakat karena sering menimbulkan banjir.

Berdasarkan pantauan “GM”, Jumat (6/9), sejumlah tanggul dan bantarannya berpotensi jebol.

Masyarakat berharap, sungai yang belum pernah dinormalisasi tersebut segera ditata dan dikembalikan ke kondisi semula. Sungai Cikelong melintasi Desa Waluya, Cicalengka Wetan, Cikuya, Cicalengka Kulon, dan Desa Panenjoan.

Aliran sungai mengalami pendangkalan dan menyempitan. Selain itu, terdapat pergeseran tanggul ke arah aliran sungai karena aktivitas warga serta banyaknya pohon dan bangunan yang terlalu dekat dengan aliran sungai.

Dengan begitu, sungai tersebut sering meluap dan menggenangi rumah-rumah warga saat turun hujan. Selain menggenangi ruas jalan Ir. Djuanda, sehingga memutus akses jalan.

Belum dilirik

Ketua Panglawungan Kisunda (Pakis) Kec. Cicalengka, Kab. Bandung, Lukman Nulhakim turut mengkritisi pemerintah yang belum menangani sungai tersebut. “Kerusakan infrastruktur sungai yang melintasi kawasan padat penduduk itu dikeluhkan warga setempat,” kata Lukman yang diiyakan tokoh pemuda Desa Cikuya, Oos Sugandi alias Oseng (48) kepada “GM” di Cicalengka, kemarin.

Menurut Lukman, memasuki musim hujan, jalur Jalan Ir. Djuanda terendam banjir dengan ketinggian pinggang orang dewasa. Ditambah sejumlah rumah yang juga turut terendam. “Jika jalan terendam banjir, kendaraan tidak bisa melintas,” katanya.

Hal senada dikatakan Oseng. Akibat kerusakan infrastruktur sungai, banyak warga yang marah. “Bagaimana tidak marah, rumah mereka kebanjiran terus,” katanya.

Menurut Oseng, kerusakan diakibatkan penyempitan dan pendangkalan. “Semula aliran sungai itu lebarnya 4 meter, kini hanya 2 meter. Bahkan ada yang 1 meter,” ujarnya.

Sedangkan kedalamannya yang mencapai 2-2,5 m, kini rata-rata kurang dari 1 meter.

“Bagaimana air bisa mengalir kalau permukaan aliran sungainya sekarang sejajar dengan saluran drainase,” katanya.

Oseng pun mengatakan, penyempitan sungai terjadi karena banyak warga yang melakukan aktivitas di sawah berusaha mempersempit aliran sungai. “Buktinya jalan setapak di sebuah desa yang dilintasi aliran sungai itu, kini bisa dilintasi becak. Akibatnya, sungai menyempit,” katanya.

Sumber : http://klik-galamedia.com