Dampak Kemarau Panjang, Sejumlah Wilayah di Jatinangor Krisis Air Bersih

by

Dampak kemarau panjang yang mendera Kabupaten Sumedang, mengakibatkan tiga Desa di wilayah kecamatan Jatinangor kesulitan mendapatkan air bersih. Tiga wilayah tersebut meliputi Desa Cibeusi, Desa Cipacing, dan Desa Cisempur.

Kondisi ini, membuat sebagian warga harus rela mengantre untuk mendapatkan mendapatkan air bersih dan untuk menutupi kebutuhan, tidak sedikit warga yang harus merogoh kocek untuk membeli air bersih.

Pantauan eljabar.com di beberapa lokasi, Rabu ( 11/9/2018) petang, ada tiga wilayah di Desa Cibeusi yang terdampak kekeringan, yakni RW 08, RW 09, RW 13, dan RW 14. Puluhan Kepala Keluarga di daerah tersebut harus rela mengantre untuk mendapatkan air bersih. Warga terpaksa mengantre untuk mengambil air di salah satu kost kostan di wilayah tersebut.

“Kondisi seperti ini mulai terjadi saat musim kemarau panjang, banyak sumur warga yang mulai kering. Kalaupun masih tersisa, ” Air sumur tidak layak untuk diminum, Sudah sebulan lebih warga 09 mengambil air bersih dari kosan 75, itu juga hanya diberi jatah dua jam, pagi dua jam lalu sore dua jam, bahkan di RW 08 banyak warga yang mandi dan mencuci pakaian di Sungai Ciempat, ” kata Suhendar, salah satu warga RW 08, Desa Cibeusi, Kec. Jatinangor, Kabupaten Sumedang dalam keterangannya.

Di daerah lainnya, yakni di Desa Cipacing, yakni RW 9, Kampung Nangkod dan RW 15 Kp. Bojong. Warga RW 9 Kampung Nangkod terpaksa berbondong bondong untuk mengambil air dengan menggunakan jerigen, bahkan mandi dan mencuci pakaian di mata air “Citulang” yang berlokasi diperbatasan Desa Cibeusi dengan Desa Cipacing, lokasi tersebut tepatnya di area Perumahan Janaty Park.

Jangankan satu ember, segelas pun tidak ada air di sumur, “Sumurnya pada kering,” kata Tantan Hadiansyah (37) salah satu warga Dusun Nangkod  RT 03 RW 09, Desa Cipacing saat ditemui di kediamannya, Rabu (12/9/2018) petang.

Selain itu, pantauan kami di Perumahan Taman Bukit Makmur, RW 11, Desa Cisempur, untuk memenuhi kebutuhan, puluhan warga harus rela menambah biaya untuk membeli air.

“Di daerah kami, air hanya ngocor selama 15 – 20 menit saja, dan itu juga airnya tidak besar, paling juga dalam sehari saya hanya mendapatkan air sebanyak 8 ember kecil. ” Untuk menutupi kebutuhan sehari hari saya pun terpaksa mengeluarkan biaya lagi untuk membeli air seharga 60 rb per 1000 liter, ” kata Ado Sunarya (38) salah satu warga TBM.

Hingga berita ini diturunkan, Puluhan Kepala Keluarga di tiga wilayah kecamatan Jatinangor tersebut mengatakan belum mendapatkan bantuan dari pemerintah, warga berharap pemerintah untuk segera turun tangan memberikan solusi untuk mengatasi dampak kekeringan tersebut

 

 

 

Sumber : http://eljabar.com