Dampak Pembangunan Apartemen dan Perumahan Jatinangor Minim Air Bersih

by -147 views

Dampak Pembangunan Apartemen dan Perumahan Jatinangor Minim Air Bersih

Jatinangorku.com – Semakin banyaknya pembangunan perumahan dan apartemen di wilayah Jatinangor, Kabupaten Sumedang, berdampak terhadap minimnya ketersediaan air bersih. Pembangunan lokasi-lokasi tersebut akan membutuhkan air bersih dengan volume banyak untuk para penghuninya. Sehingga, tidak menutup kemungkinan pasokan air bersih di Jatinangor akan semakin menurun.

Salah seorang tokoh masyarakat Jatinangor, Ade Santana mengimbau agar setiap komponen masyarakat, pengusaha, dan pemerintah Kabupaten Sumedang sedini mungkin berusaha menyelamatkan pasokan air bersih.

“Pengamanan pasokan air bersih itu bisa melalui penanaman pohon, menerapkan program biopori atau normalisasi saluran air,” kata Ade kepada wartawan di Kecamatan Jatinangor, Jln. Ir Soekarno, Selasa (19/8).

Menurutnya, melalui langkah tersebut, selain penyelamatan pasokan air bersih juga sebagai upaya menekan banjir ketika memasuki musim hujan.

“Sekarang berhubung masih musim kemarau, kalau hujan Jatinangor dipastikan banjir. Nah, sangat bagus kalau sekarang mencari solusi masalah banjir dan menyelamatkan air untuk kebutuhan rumah tangga warga Jatinangor,” terangnya.

Ketua Dewan Kesenian Jatinangor (DKJ) itu berharap kepada pengelola lembaga pendidikan di Jatinangor, turut memberikan solusi terkait kedua persoalan itu.

“Apa pun persoalan di Jatinangor, harus ada kepedulian dari semua elemen masyarakat. Sangat tidak masuk akal, berbagai persoalan di sini bisa terurai tanpa peran serta semua pihak dan dorongan Pemda,” ujarnya.

Kejelasan

Didampingi Ketua Perkumpulan Gerakan Djatinangor (Pagerdjati), Agus Bustanul, Ade mengaku butuh kejelasan dari Dinas atau pihak terkait di Pemkab Sumedang untuk menentukan jumlah sumur dalam tanah (artesis).

Ia menuturkan, data tersebut dianggap tidak salah diketahui masyarakat agar lebih transparan. Menurutnya, bukan tidak boleh ada pembangunan artesis di Jatinangor, melainkan segala sesuatunya harus jelas.

“Kejelasan itu mulai dari kajian teknis dan tetap mengacu pada aturan. Karena, Jatinangor masuk daerah cekungan Bandung, sehingga jika akan dibangun artesis di dalam, maka harus mengikuti rambu-rambunya,” paparnya.

Kondisi tersebut, lanjut Ade, sebagai antisipasi di kemudian hari warga Jatinangor kesulitan air, apakah semua pemilik artesis komitmen untuk berbagi.

“Tolong, sebagai warga Jatinangor, kami berharap agar pemda bersikap tidak gegabah, dalam arti pengawasannya ketat terkait pembangunan artesis,” katanya.

Bahkan sangat tepat ketika pola penghijauan program lainnya, berbau penyelamatan pasokan air bersih, segera direalisasikan.

“Kami berkeyakinan, Pemda turut mendorong siapa pun masyarakat Jatinangor atau lembaga di sini yang berkeinginan menyelamatkan pasokan air bersih dan menekan terjadinya banjir,” pungkasnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/