Dana Reklamasi Galian C Cimalaka Dipertanyakan

by -36 views

Pemerintah Kecamatan Cimalaka mempertanyakan dana reklamasi bekas galian C jenis pasir dan batu (sirtu) di kaki Gunung Tampomas yang ada di wilayah Kecamatan Cimalaka. Sebab, relatif banyak lahan bekas galian C sirtu yang tidak direklamasi oleh pengusahanya. Padahal, dampaknya bisa menyebabkan longsor, banjir dan musibah kekeringan ketika musim kemarau.

“Memang cukup banyak lahan bekas galian C di wilayah kami yang tidak direklamasi. Lahannya tidak diratakan dan dihijaukan kembali. Padahal, imbasnya bisa menyebabkan bencana alam yang bisa merugikan bahkan membahayakan keselamatan jiwa masyarakat kami,” ujar Camat Cimalaka Asep Aan di kantornya, Rabu, 26 Oktober 2016.

Ia mengaku heran, kini banyak lahan bekas galian C yang tidak direklamasi oleh pengusahanya. Padahal, para pengusaha sudah menyimpan dana jaminan reklamasi di Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pertanahan Kab. Sumedang. Bahkan, dana jaminan reklamasi itu menjadi syarat yang harus dipenuhi pengusaha ketika mengajukan izin penambangan. Dana reklamasi tersebut, akan digunakan untuk meratakan dan menghijaukan kembali lahan galian C yang sudah ditambang. “Tapi nyatanya, banyak lahan bekas galian sirtu yang tidak direklamasi. Lantas, kemana dana reklamasinya?” katanya.

Menurut Asep Aan, tidak menutup kemungkinan jika pengusaha lebih memilih “kabur” meninggalkan lahan bekas galian C-nya, ketimbang mereklamasi lahan bekas galiannya. Pasalnya, dana reklamasi yang dititipkan di Dinas ESDM dan Pertanahan, nominalnya jauh lebih kecil dibanding biaya yang harus dikeluarkan untuk mereklamasi. “Akan tetapi, seandainya ada pengusaha yang kabur tanpa mereklamasi lahan bekas galiannya, kan bisa dicari orangnya dan bisa diminta pertanggungjawabannya?” ucapnya

Dikatakan, jika ada pengusaha yang berdalih lahannya belum direklamasi karena masih bisa ditambang untuk mengambil batu berangkal, itu hanya alasan klasik saja. Sebab, dalam aturan maupun izin penambangannya, sudah ditentukan kedalaman tanah yang bisa ditambang. Ketika kedalamannya sudah tercapai, pengusaha harus menghentikan penambangannya, sekalipun dalihnya untuk memanfaatkan batu berangkal. “Jadi, pengusaha tidak boleh menambang melampaui batas kedalaman yang sudah ditentukan,” ujarnya.

Terlepas dari aturan teknis penambangan apalagi hal itu kewenangan Dinas ESDM dan Pertanahan, lanjut Asep Aan, yang pasti berbagai dampak penambangan galian C yang melanggar aturan dan tidak sesuai kaidah lingkungan, sangat merugikan masyarakat. Sebab, imbasnya akan menyebabkan kerusakan lingkungan di kaki Gunung Tampomas di wilayah Kec. Cimalaka. Lahan bekas galian C yang tidak direklamasi, berpotensi longsor dan bisa menimbulkan banjir. Bahkan banyak sumber mata air yang hilang hingga menyebabkan lahan pesawahan mengalami kekeringan di musim kemarau.

“Sampai-sampai, ada tower SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) di tengah lokasi galian, yang lahan di sekelilingnya nyaris habis dikeruk pasirnya.

Bahkan sebelumnya, ruas jalan ke TPSA (tempat pembuangan sampah akhir) Cibeureum sempat ambles terkena longsor. Kejadian itu, akibat tanah di bawahnya terus dikikis dan dikeruk pasirnya. Semua itu, akibat penambangan yang melampui batas,” katanya

Lebih jauh Asep Aan menjelaskan, meski urusan dana jaminan reklamasi kewenangan Dinas ESDM dan Pertanahan, dalam penggunaannya harus dilaporkan kepada Pemerintah Kecamatan Cimalaka sebagai pemangku wilayah. Sebab, Pemerintah Kecamatan Cimalaka sangat berkepentingan dengan kegiatan penghijauan di lahan-lahan bekas galian C. Upaya penghijauan itu untuk mencegah bencana alam.

“Terus terang, hingga kini kami belum pernah mendapatkan laporan dari Dinas ESDM dan Pertanahan tentang penggunaan dana reklamasi untuk penghijauan di lahan bekas galian C. Minimal, pemberitahuan. Jangan sampai, masyarakat kami yang kena getahnya dari dampak buruk aktivitas galian C yang tidak sesuai ketentuan,” ujarnya.

Ketika akan dikonfirmasi di kantornya, Kepala Bidang ESDM Dinas ESDM dan Pertanahan Kab. Sumedang, Dedi, sedang tidak ada di kantor