Deddy Mizwar Pilih Skyway

by -34 views

Skyway Harus Menghubungkan Padalarang-Bandung-Jatinangor Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar lebih memilih Skyway daripada Light Rail Transit (LRT) sebagai moda transportasi masa depan. Pemilihan itu dinilai lebih efisien dan dapat mengurai kemacetan serta jangkauan yang lebih luas.

Hal tersebut disampaikan Deddy Mizwar menanggapi perihal rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang akan membangun LRT sepanjang 3 kilometer untuk mengatasi tingkat kemacetan di Kota Bandung.

”Yang saya pertanyakan kalau cuma tiga kilometer buat apa, buat pariwisata atau apa? Sebab, kalau buat transportasi umum untuk aktivitas orang bekerja, ya mendingan naik angkot,” papar Deddy di Bandung, kemarin (24/10).

”Kalau cuma tiga kilometer bisa naik sepeda,” sambungnya.

Dikatakan pria yang akrab disapa Demiz itu, pembangunan moda transportasi, dalam hal ini Skyway, jangan hanya terpusat di satu titik. Melainkan terintegrasi ke berbagai pelosok daerah. Hal tersebut agar memberikan efisiensi bagi masyarakat penggunanya.

”Jadi orang tidak lagi naik Skyway nyambung angkot. Tapi turun hanya beberapa ratus meter ke tempat tujuan dia,” kata dia.

Untuk pembangunan Skyway, Demiz menilai bukan hanya berbicara Kota Bandung saja. Belainkan Bandung Raya, di mana mencakup Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Sumedang dengan jarak minimal 100 kilometer.

”Makanya berbicaranya jangan hanya kota Bandung melainkan Bandung Raya. Ada Cimahi, Padalarang, Jatinangor, Soreang dan juga Kota Bandung. Jadi lima Kabupaten/Kota terjangkau oleh itu,” urainya.

Demiz memaparkan, untuk anggaran pembangunan Skyway tersebut, pihaknya lebih mengupayakan kepada investor daripada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau pun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Barat dikarenakan keterbatasan anggaran.

Meski begitu, Demiz mengatakan, pihaknya tetap berupaya mencari ‎investor yang realistis dan tentunya dengan harga yang murah. Dan saat ini, lanjut dia, pihaknya baru mendapatkan investor dari Rusia yang dianggap bisa memenuhi efisiensi anggaran.

”Jadi dia harus investor, karena APBD gak mungkin lah membiayai. Nah, kalau investor, itu harganya harus efisien sehingga betul-betul nanti konsumen mampu terjangkau,” pungkasnya.

Sumber : http://jabarekspres.com