Dedi Kusnandar, Kembalinya Sang Pangeran Local Boys From Jatinangor

by -28 views

Jatinangorku.com – Apa yang pertama kali ada di benak anda ketika melihat komposisi lini tengah Persib Bandung? Rataan jawaban pasti akan seperti ini.

Hariono yang akan bertugas mematahkan alur serangan lawan, Makan Konate yang menjadi otak permainan Persib, lalu Taufiq dan Firman Utina secara bergantian berperan sebagai penyeimbang lini tengah; menjadi sebuah paket lengkap di tengah lapangan Juara Bertahan Liga Super Indonesia ini.

Sejenak mari kita lupakan, betapa sulitnya Persib mencari penggedor utama pertahanan lawan pengganti Djibril Coulibaly dan Ferdinand Sinanga yang hengkang. Tetapi Persib mendapatkan sesuatu yang lain. Pada 1 desember 2014 lalu Persib berhasil memulangkan putra daerah, pemuda asal Jatinangor, Sumedang, Dedi Kusnandar.

Pada bursa transfer kali ini, Persib memang tidak sejor-joran biasanya. Praktis selain Dedi, Persib hanya memulangkan putra daerah lain yaitu, Yandi Sofyan Munawar yang merupakan adik kandung eks-bintang Persib Zaenal Arief, dan juga Dias Angga Putra yang diangkut dari rival sekota, Pelita Bandung Raya. Bisa jadi kepulangan Dedi adalah sesuatu yang spesial, setelah sekian lama ditinggal figur ikonik Eka Ramdani, bobotoh mungkin akan menemukan sosok Dedi Kusnandar sebagai pangeran Persib yang baru.

Dado, sapaan akrab Dedi Kusnandar, lahir di Jatinangor sebuah daerah di perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang, pada 23 Juli 1991. Dedi yangmengawali karir sepakbolanya di salah satu SSB elit kota Bandung, yaitu UNI Bandung, mengaku terinspirasi oleh sang Ayah, Jajang Kamil yang merupakan pesepakbola amatir yang bermain untuk klub daerah Kawalram.

Setelah lulus dari UNI dan promosi ke Persib u-21, Dedi justru hijrah ke Pelita Jaya hingga dirinya mendapatkan debut profesionalnya pada tahun 2008. Empat tahun bersama klub yang kini bernama Pelita Bandung Raya, Dedi mencatatkan 57 kali penampilan dan 3 gol, ditambah prestasi menggondol gelar juara ISL U-21, ketika berseragam Pelita Jaya U-21. Musim 2012-2013 Dedi memutuskan untuk berpetualang ke Jawa Timur, bersama Arema Cronus dan Persebaya Surabaya di musim berikutnya. Dua tahun malang melintang di klub klub besar sepakbola Indonesia, pada awal musim ini, Dedi memutuskan pulang untuk membela klub idola masa kecilnya, Persib Bandung. Meskipun sebenarnya Dedi bisa saja direkrut pada musim 2013-2014, namun hal tersebut gagal terealisasi, setelah Persib kalah cepat untuk mencapai kesepakatan dengan Dedi.

Gelandang yang dipercaya sebagai kapten pada SEA

Games

2014 lalu di memiliki kelebihan dalam mengirimkan umpan dan juga piawai dalam mengeksekusi bola mati. Berbeda dengan Eka Ramdani yang lebih berperan sebagai fantastista, Dedi adalah figur yang pas untuk permainan Persib yang kini lebih dominan mengoptimalkan kekuatan sayap-sayap mereka. Direct pass mendatar ciri khas Dedi, merupakan sodoran ideal yang bisa dimaksimalkan oleh sayap-sayap Persib yang bertubuh mungil. Sebagai contoh, pada final Inter Island Cup 2014 kemarin, Persib berhasil mencatatkan 12 kali drible sukses dari 20 kali percobaan, dan 4 dari 12 drible sukses tersebut adalah hasil kreasi Dedi. Yang paling mencolok tentunya bagaimana ketika umpan terobosan mendatar Dedi berhasil dimanfaatkan Tantan, sayang eksekusi Tantan masih mengarah tepat ke penjaga gawang.

Kelebihan lain yang dimiliki Dedi adalah kemampuanya untuk bertahan, walapun terkadang memang dirinya mengambil bola dengan sedikit kasar, tetapi di waktu lain, Dedi bisa mengambil bola dengan taktis, dirinya pun tak segan turun jauh ke area pertahanan untuk membangun serangan.

Persib sering kali kelimpungan ketika salah satu dari 3 gelandang utama absen karena cedera atau karena mendapatkan hukuman. Ketika Hariono absen, maka pertahanan Persib akan benar-benar rapuh, serangan akan langsung masuk menuju jantung pertahanan. Ketika Firman tidak bermain, lini tengah Persib benar-benar tidak seimbang. Lebih kacau lagi ketika Konate absen, Persib seakan kehilangan arah, alur pola permainan menjadi tidak jelas. Pulangnya Dedi bukan saja membuat opsi di lini tengah menjadi lebih variatif. Dedi bisa memainkan 3 peran sekaligus, bertahan, penyeimbang, dan mengatur serangan.

Fakta bahwa Dedi, merupakan putra daerah merupakan nilai tersendiri. Setelah dalam beberapa musim ke belakang, lini tengah Persib didominasi oleh orang luar Jawa Barat, keberadaan Dedi Kusnandar menjadi sesuatu yang amat ditunggu oleh bobotoh. Bukan tidak mungkin, dalam beberapa musim ke depan, mengingat usia Firman Utina dan Atep yang sudah tidak muda lagi, bisa saja nantinya, Dedi-lah yang akan memimpin Maung Bandung.

Kini tugas Dedi adalah membantu Persib untuk mempertahankan gelar juara Liga Indonesia sekaligus berlaga di Liga Champions Asia.

Wilujeng Sumping, Dedi Kusnandar!

Sumber : http://simamaung.com/