Dedi Mulyadi, Kisah Hidup Susah Sampai Jadi Bupati

by -65 views

PENGALAMAN Dedi Mulyadi di kancah politik daerah tingkat dua terbilang lengkap. Ia pernah menjadi anggota legislatif, wakil bupati, serta Bupati Purwakarta selama dua periode.

Saat mahasiswa, Dedi muda aktif di berbagai organisasi. Pada 1994, ia dipercaya menjadi Senat Mahasiswa STH Purnawarman kemudian Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta. Sikap kritis Dedi Mulyadi, serta bekal pengalamannya di organisasi, mengantarkan suami dari Anne Ratna Mustika itu menjadi anggota DPRD Purwakarta pada 2001.

Karier politik Dedi terbilang melesat. Hanya duduk di kursi dewan selama tiga tahun, ia dipinang Lily Hambali Hasan untuk mendampinginya menjadi Wakil Bupati Purwakarta.

Pada 2008, Dedi mencalonkan diri menjadi Bupati Purwakarta dan terpilih kembali tahun 2013. Selama dua periode menjabat, Dedi dikenal membangun daerah berbasiskan kearifan lokal.

Pernah hidup susah

Dedi Mulyadi terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Ahamad Suryana, adalah purnawirawan dengan pangkat terakhir prajurit kader. Kondisi kesehatan Ahmad yang tidak baik membuatnya hanya bisa mengabdi di kemiliteran sampai usia 28 tahun. Ia lalu bekerja di perkebunan.

Sang ibu, Karsiti, harus membantu ekonomi keluarga. Ia menghidupi sembilan anaknya dengan membanting tulang, menjadi kuli tandur, hingga mencangkul di sawah.

Jika ingin jajan, Dedi harus mencari uang sendiri. Ia pernah membantu berjualan es mambo, layang-layang, dan kayu bakar yang dikumpulkan sepulang sekolah.

Masa remaja Dedi juga prihatin. Ia harus rela melepas keinginannya untuk kuliah di Universitas Padjadjaran karena tidak memiliki cukup dana. Meskipun demikian, namanya sempat masuk dalam daftar calon mahasiswa yang lolos seleksi di Unpad.

Alhasil, Dedi melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta. Itu pun terbilang nekat. Untuk membiayai kuliahnya, Dedi harus berjualan beras dan gorengan.

Membangun daerah berbasis budaya

Dedi Mulyadi dikenal sebagai kepala daerah yang mengedepankan pembangunan berbasis kearifan lokal. Meski begitu, ia tetap mampu menyinergikan budaya, agama, dan teknologi dalam kebijakan yang dijalankan di Purwakarta.

Beberapa kebijakan yang diterapkan Dedi di Purwakarta terbilang unik. Misalnya, semua guru di Purwakarta dilarang memberikan pekerjaan rumah. Materi pelajaran akademis harus dituntaskan di sekolah.

Pria yang kerap mamakai iket khas Sunda itu juga pernah memberikan batasan waktu apel ke rumah pacar, hanya sampai pukul 9 malam. Menurut dia, aturan adab bertamu merupakan upaya mengembalikan kearifan budaya Sunda.

 

 

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com