Di Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, Siswa Superclass Memang Beda

by


JATINANGOR

Dirintisnya program pendidikan kelas super atau superclass di Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem (YPAM) di Jalan Raya Bandung-Garut, Desa Cipacing, Kec. Jatinangor, Kab. Semedang, ternyata sangat berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan siswa SD, SMP, dan SMA YPAM.

Mereka yang masuk superclass, terutama siswa SMP dan SMA kini lebih fasih berbahasa Inggris. Mereka bahkan berbahasa Inggris saat berbincang dengan temannya.

“Ya benar, siswa SD, SMP, dan SMA di YPAM yang masuk superclass sangat berbeda, terutama dalam berbahasa Inggris. Mereka enguasai bahasa Inggris,” kata Penanggung Jawab Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmens) YPAM, Ronny Andrias Lakani, S.S. kepada wartawan saat menyaksikan kegiatan belajar mengajar (KBM) 25 siswa superclass kelas VII di YPAM, Kamis (1/11).

“KBM siswa SMP dan SMA di YPAM bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Siswa superclass hasil seleksi dengan IQ di atas 135. Ini sudah berjalan dua tahun,” katanya.

Menurut Ronny, untuk tingkat SMP dan SMA sudah ada dua kelas superclass yang masing-masing siswanya 25 orang. “Pengajarnya selain guru dari YPAM, juga dari laur, di antaranya Eric Lincoln Maxie dari Amerika selaku native speaker,” katanya.

Selain itu, menurut Ronny, program superclass memiliki sedikit persamaan dengan rintisan sekolah berbasis internasional (RSBI). Namun proses KBM-nya jauh berbeda.

“Superclass yang telah dirintis dalam dua tahun ini benar-benar menggunakan metode dan kurikulum YPAM. Hasilnya lumayan, dari sisi wawasan bisa dibanggakan. Namun tidak semua siswa bisa masuk superclass. Ada seleksi dengan kemampuan IQ di atas rata-rata,” katanya.

(B.105)**