Dibongkar, 514 Kios PKL PT Kahatex di Jatinangor

by -46 views

Jatinangorku.com – Tepat pukul 00.00 WIB, Selasa (7/7/2015) tengah malam, satu per satu ratusan bangunan kios PKL (pedagang kaki lima) di Jalan Raya Bandung-Garut tepatnya di depan pabrik PT Kahatex di Desa Cintamulya, Jatinangor, dibongkar aparat gabungan Satpol PP Provinsi Jabar dan Kabupaten Sumedang dengan menggunakan satu unit alat berat dan secara manual.

Bangunan PKL yang berjumlah sekitar 514 unit yang memanjang searah jalan dan membuat kumuh di ruas jalan itu, satu per satu dirobohkan dengan alat berat hingga rata dengan tanah.

Proses pembongkaran melibatkan semua unsur, termasuk TNI dan Polri untuk membantu pengamanan di lokasi pembongkaran maupun kelancaran lalu lintas kendaraan. Meski mendapat penolakan dari warga pedagang, proses pembongkaran berlangsung aman dan lancar.

Dari pantauan “PRLM” di lokasi, sebelum pembongkaran, sebagian pedagang sudah membongkar sendiri kiosnya. Mereka mengamankan barang-barangnya sekaligus mengambil bahan material yang masih bisa dipakai.

Usaha para pedagang itu dilakukan ketika proses pembongkaran berlangsung. Meski menolak pembongkaran, mereka hanya bisa pasrah dan termenung melihat tindakan tegas aparat Satpol PP. Pembongkaran itu menjadi tontonan warga dan para PKL lainnya di tengah malam hingga dini hari.

Dalam meluapkan rasa kekesalannya, mereka menyoraki puluhan petugas yang sedang membongkar kios. Namun, kondisi itu tak menyurutkan aparat Satpol PP yang terus membongkar satu per satu bangunan PKL.

Hingga pukul 2.00 WIB dini hari, proses pembongkaran ratusan kios PKL Kahatex masih terus berlangsung dengan situasi kondusif. Proses pembongkaran, melibatkan pasukan dengan kekuatan penuh dengan menerjunkan personel sebanyak 500 orang.

Selain menurunkan satu unit alat berat, juga membawa sekitar enam truk pengangkut sampah untuk mengangkut material bekas bongkaran dan reruntuhan kios.

Pembongkaran PKL yang berada di jalur mudik ke arah Nagreg dan menjadi biang kemacetan, banjir dan kesemrawutan tersebut, dipimpin langsung oleh Kasatpol PP Provinsi Jabar Udjwala Prana Sigit dibantu Kasatpol PP Kabupaten Sumedang H. Asep Sudrajat, Wakapolres Sumedang Tri Suryanti, Danramil Jatinangor Cumitra dan Camat Jatinangor Ida Farida

Ditemui di lokasi pembongkaran, Eti (50) salah seorang PKL Kahatex warga Kampung Cipasir RT 01/RW 0, Desa Cintamulya, Kec. Jatinangor mengaku sedih melihat pembongkaran tersebut.

Kios satu-satunya yang menjadi mata pencahariannya, kini rata dengan tanah setelah dirobohkan alat berat. Tak pelak, kios hilang, penghasilan pun hilang.

“Jelas, saya tak punya lagi penghasilan. Apalagi, besok anak-anak mulai sekolah lagi. Dari mana saya harus membiayai sekolah dan makan anak-anak, kalau tidak berjualan lagi. Anak saya enam pak, banyak yang masih sekolah,” kata Eti yang berjualan tahu bulat.

Karena berjualan menjadi mata pencahariannya, kata dia, sehingga ia meminta keikhlasan dan keadilan Pemrov Jabar dan Pemkab Sumedang untuk menempatkan kembali kiosnya supaya ia tetap bisa berjualan.

Keinginannya, tempat relokasinya tak jauh dari lokasi semula. Memang tidak ada lagi tempat pemindahan yang cocok, kecuali meminta kebijakan dari pihak perusahaan PT Kahatex untuk menampung para PKL ke dalam pabrik. “Keinginan kami seperti itu. Itu juga kalau diizinkan oleh perusahaan Kahatex,” ujar Eti penuh harap.

Walaupun menolak pembongkaran, namun ia tidak bisa berbuat banyak ketika aparat Satpol PP merobohkan kiosnya. Diakui dirinya bersalah berjualan di tempat yang dilarang, namun ada sejumlah oknum warga termasuk preman yang setiap harinya melakukan pungli (pungutan liar) untuk jasa keamanan dan kebersihan.

Dengan pungli tersebut, seolah-olah para PKL “dilegalisasi” berjualan di tempat itu. “Saya bayar iuran setiap harinya Rp 3.000 untuk kebersihan dan keamanan. Saya penduduk di sini dan sudah 24 tahun berjualan. Modal saya Rp 150.000 dan keuntungannya rata-rata Rp 30.000 per hari,” katanya.

Eti mengaku keberatan dengan pembongkaran tersebut. Sebab, pembongkaran itu hanya para PKL di depan Kahatex saja. Seharusnya pemerintah adil dan tak pandang bulu. Semua PKL di Jalan Raya Bandung-Garut harus ditertibkan. ”Jangan kami saja yang dibongkar, tapi semua PKL dari Cileunyi sampai Nagreg juga harus ditertibkan,” katanya.

Hal senada dikatakan PKL lainnya, Uyung (48). Ia meminta kepada pemerintah untuk ditempatkan lagi ke lokasi lainnya. Keinginannya itu supaya dirinya dan para PKL lainnya tetap bisa mengais rezeki untuk menghidupi keluarganya.

Sampai sekarang, diakui belum ada tempat dan lahan yang cocok untuk relokasi para PKL. Kecuali, ditampung dan dimasukan ke dalam kawasan pabrik Kahatex sehingga relokasinya tak jauh dari tempat semula. “Saya sudah 20 tahun berjualan di sini sehingga saya mengharap keridaan pemerintah untuk menempatkan kami lagi,” ujarnya.

Menyinggung hal itu, Kasatpol PP Provinsi Jabar, Udjwala Prana Sigit menyebutkan, pembongkaran kios PKL Kahatex sebanyak 514 unit tersebut, untuk memungsikan kembali drainase (selokan) di bahu jalan yang tertutup bangunan PKL.

Pasalnya, akibat drainase di sepanjang jalan tertutupi bangunan kios PKL, menyebabkan banjir ke badan jalan hingga menimbulkan kemacetan kendaraan hingga beberapa jam.

Bahkan akibat banjir Kahatex, sempat memutuskan arus lalu lintas di Jalan Raya Bandung-Garut. Banjir dan kemacetan di depan PT Kahatex menjadi isu nasional dan menjadi sorotan masyarakat.

“Jadi dengan pembongkaran ini, kami ingin drainasenya berfungsi seperti semula. Bisa terbuka dan kelihatan, atau tidak tertutupi lagi bangunan kios PKL lagi,” katanya didampingi Kasatpol PP Kab. Sumedang H Asep Sudrajat.

Sigit mengatakan, pembongkaran itu bukan karena sebentar lagi akan Lebaran, melainkan sudah menjadi program dari dulu tapi sempat tertunda.

Namun demikian, setelahnya melakukan sosialisasi yang intensif dan memberikan pemahaman kepada para PKL, akhirnya pembongkaran berhasil dilaksanakan dengan aman dan lancar.

Setelah semua bangunan dibongkar, akan dilakukan penataan drainase, trotoar dan bahu jalan. Melalui penataan itu, selain tidak akan terjadi lagi banjir dan kemacetan, juga para pejalan kaki bisa berjalan dengan nyaman dan arus lalu lintas kendaraan berjalan lancar.

“Supaya tidak ditumbuhi lagi para PKL, kami akan melakukan patroli secara rutin dengan melibatkan anggota Linmas setempat. Bila perlu kita ‘tanam’ anggota beserta Linmas untuk menjaga jangan sampai lokasi bekas pembongkaran ditempati lagi oleh para PKL,” ujarnya.

Lebih jauh Sigit menjelaskan, terkait relokasi PKL, pihaknya akan memikirkan penempatan mereka supaya mata pencaharian para PKL tidak hilang dan mereka bisa tetap mengais rezeki dengan berjualan.

“Bagaimana pun juga, mereka itu warga kita. Kami juga tak mau memutus rezeki mereka, Nanti kami akan pikirkan dan mencari jalan keluar terbaik,” katanya.

Ia menambahkan, penertiban dan pembongkaran PKL, tak hanya di depan PT Kahatex saja, melainkan di sepanjang Jalan Raya Bandung-Garut.

Bahkan tak hanya di wilayah Kab. Sumedang saja, termasuk di beberapa daerah kabupaten/kota lainnya di Jabar, seperti Kab. Bandung, Bekasi, Karawang dan Cirebon. “Justru pembongkaran bangunan PKL di Kahatex ini titik awal untuk penertiban di daerah lainnya di Jawa Barat,” ujarnya.

Menanggapi masalah relokasi PKL, Camat Jatinangor Ida Farida mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemprov Jabar dan Pemkab Sumedang untuk membahas tentang aspirasi para PKL yang ingin direlokasi ke tempat lainnya.

Begitu pula keinginan PKL ditampung di dalam kawasan perusahaan Kahatex, harus dibicarakan lebih lanjut dengan perusahaan dan pihak terkait lainnya.

“Kami belum bisa menjelaskan lebih jauh tentang relokasi ini, sebab harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Pemprov Jabar dan Pemkab Sumedang. Apalagi Jalan Raya Bandung-Garut ini merupakan jalan nasional yang harus dikaji secara matang,” tuturnya

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/