Disnakan Monitor Pasar Antisipasi Daging Celeng Masih Ada Pedagang Nakal

by -11 views

Disnakan Monitor Pasar Antisipasi Daging Celeng Masih Ada Pedagang Nakal

Jatinangorku.com – Untuk mengantisipasi peredaran daging celeng dan daging tak layak konsumsi, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kab. Sumedang mengintesifkan monitoring ke sejumlah pasar tradisional yang berada di wilayah kerjanya.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun “GM”, Senin (30/6), permintaan daging di pasar tradisional di wilayah Sumedang mulai tinggi. “Dalam praktiknya tidak jarang ada pedagang nakal, menjual daging sapi yang dioplos dengan daging celeng atau daging yang sudah tidak layak konsumsi. Jelas, perbuatan itu sangat merugikan konsumen,” kata Kepala Disnakan Kab. Sumedang, Ir. H. Amin MM.

Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya terus berusaha mening­katkan monitoring ke sejumlah pasar tradisional dan tempat-tempat yang dicurigai.

Kegiatan monitoring itu melibatkan unsur Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Kesehatan (Dinkes) serta penyidik pegawai negeri sipil (PPS) perlindungan konsumen (PK).

Sejauh ini, lanjut Amim, dari serangkaian monitoring yang sudah dilaksanakan, masih difokuskan pada peredaran daging sapi, kambing, dan ayam. Sementara beberapa sampel daging yang diteliti, masih menunjukkan hasil yang bagus dan layak konsumsi. Namun demikian, hasil monitoring tidak membuat pihaknya langsung puas. Apalagi, masa puncak marema Lebaran masih cukup panjang.

Pasar dadakan

Dengan demikian, berbagai kemungkin­an bisa terjadi, yang disebabkan ulah oknum tidak bertanggung jawab, yang berusaha mencari keuntungan sendiri. Misalnya dari beberapa kasus sebelumnya, masa marema Lebaran sering dihebohkan peredaran daging celeng dan daging gelonggong serta ayam tiren.

Modus operandi oknum tersebut, memanfaatkan pasar dadakan dan selalu berpindah-pindah dengan menggunakan mobil. Sebelum dijual, daging celeng dan daging tidak layak konsumsi itu dicampur dengan daging sapi segar. Guna menarik pembeli, harga daging yang ditawarkan selisihnya tidak jauh berbeda dengan daging sapi yang layak konsumsi.

“Oleh karena itu, kami tidak ingin kecolongan dengan adanya peredaran daging tak layak konsumsi di sejumlah pasar tradisional. Untuk mengantisipasi hal itu, kami bersama-sama institusi terkait akan terus mengintensifkan monitoring secara berkesinambungan,” tegasnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/