DPRD Sumedang Tolak Pemindahan Situs Makam Aji Putih

by -44 views

Jatinangorku.com – DPRD Kabupaten Sumedang menolak pemindahan situs karuhun (nenek moyang-red) Sumedang Makam Prabu Guru Aji Putih di daerah genangan Waduk Jatigede di Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja.

Sikap dewan tersebut, mengikuti sikap masyarakat adat setempat dan para tokoh budayawan Sumedang di Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) yang juga menolak pemindahan.

“Kami sebelumnya sudah melakukan pembicaraan dengan masyarakat adat Cipaku dan YPS, terkait penanganan Makam Prabu Guru Aji Putih di daerah genangan Waduk Jatigede. Hasil pembicaraannya, mereka meminta supaya situs itu tidak dipindahkan. Oleh karena itu, sikap kami juga mengikuti dan harus mendorong keinginan masyarakat adat dan YPS. Namun, ada alternatif lain untuk penyelamatannya yakni dengan membuat situs terapung di tengah-tengah genangan Waduk Jatigede,” ujar Anggota Dewan dari Fraksi Golkar yang juga Ketua Pansus Jatigede, Edi Askhari, di gedung DPRD Kabupaten Sumedang, Senin (12/10/2015).

Menurut dia, situs Makam Prabu Guru Aji Putih, Raja Tembong Agung (696-721 M) yang merupakan kerajaan pertama di Sumedang dan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sumedang Larang itu, tetap tidak dipindahkan walau pada akhirnya ikut terendam dengan semua wilayah Desa Cipaku.

Untuk menandai keberadaannya, akan dibuat situs terapung di tengah-tengah genangan Waduk Jatigede. Posisinya tepat berada di atas lokasi Makam Prabu Guru Aji Putih.

“Di situs terapung itu, nantinya akan diberi tanda khusus. Bentuknya seperti apa? tergantung keinginan masyarakat adat dan YPS. Mereka yang lebih tahu. Sebagai gambaran, mungkin seperti tetengger atau padung. Di situs terapung itu juga, nantinya akan tersimpan benda-benda bersejarah lainnya,” kata Edi.

Bagi masyarakat yang akan berziarah, lanjut dia, tinggal datang ke situs terapung di tengah-tengah genangan Waduk Jatigede dengan menggunakan perahu. Berziarah dengan menggunakan perahu dinilai tidak menyusahkan atau bahkan membahayakan, justru menjadi aset pariwisata dan budaya baru di Sumedang.

“Berziarah memakai perahu menjadi aset pariwisata. Nanti juga akan dibuat reflika makam Prabu Guru Aji Putih di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja, ” ujarnya.

Disinggung alternatif lainnya dengan membuat bangunan kaca yang menutupi semua makam, Edi mengatakan, pembuatan bangunan kaca tersebut dinilai tidak memungkinkan, baik dari segi penyediaan anggaran maupun teknis pembuatannya.

Oleh karena itu, alternatif terakhir yang memungkinkan untuk penanganan situs makam dari ancaman penggenangan Waduk Jatigede, yakni dengan membuat situs terapung.

“Meski dalam Undang-Undang No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya disebutkan setiap situs atau cagar budaya yang terancam harus diamankan atau diselamatkan, tapi kita tidak boleh memaksakan kehendak dengan memindahkan situs itu ke lokasi lainnya. Jadi, kita ikuti keinginan masyarakat adat dan YPS. Yang penting, nilai-nilai sejarahnya tidak hilang,” tuturnya.

Hal senada dikatakan anggota dewan lainnya yang juga Ketua Fraksi PDIP, Dede Suwarman. Ia mengatakan, sikap DPRD dalam penanganan situs Makam Prabu Guru Aji Putih yang terancam digenangi Waduk Jatigede, sesuai keinginan masyarakat adat setempat yang menolak pemindahan situs tersebut.

Sementara terkait upaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jabar yang sudah dan akan memindahkan semua situs di daerah genangan Waduk Jatigede termasuk Makam Prabu Guru Aji Putih, hal itu harus dikomunikasikan dengan masyarakat adat setempat, sejumlah tokoh budayawan Sumedang dan YPS. “Namun, sikap DPRD sendiri, sesuai keinginan masyarakat adat setempat,” ucapnya.

Ketika dikonfirmasi melalui telefon, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumedang, H. Eem Hendrawan belum bisa dihubungi

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/