Dua Orang Bunuh Diri di Jatinangor, Psikolog: Mahasiswa Sekarang Lebih Rentan Depresi

by

 Dunia kampus dikejutkan dengan peristiwa bunuh diri yang dilakukan dua orang mahasiswa Unpad, RWB, 24 dan MB, 23.

Keduanya kedapatan bunuh diri di tempat kos masing-masing di Jatinangor, pada tanggal yang hanya berselisih seminggu di bulan Desember 2018.

Kuliah di fakultas yang berbeda, kedua mahasiswa ini sama-sama duduk di semester 13, dan sama-sama belum menyelesaikan skripsi.
Kepolisian Resor Sumedang segera merespons peristiwa ini, dengan berkoordinasi dengan pihak Unpad.

“Kami sudah berkomunikasi dengan pihak rektorat, dan membicarakan masalah ini. Langkah-langkah ke depannya mau seperti apa, itu menjadi domain pihak rektorat Unpad,” kata Kapolres Sumedang, Ajun Komisaris Besar Polisi Hartoyo, sebagaimana dilansir ayobandung.com.

Sementara itu, menurut Kaltarina, psikolog pengelola Biro Konsultasi Psikologi di bilangan Dago, Bandung, ada banyak situasi yang mendorong seseorang ingin melakukan bunuh diri.

“Sebagian besar atau sebanyak 90 persen orang yang mencoba bunuh diri kerap teridentifikasi memiliki gangguan mental seperti depresi berat, gangguan bipolar, anoreksia nervosa, gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder, dan skizofrenia,”

“Selain itu, penyalahgunaan zat dan obat terlarang, juga trauma kekerasan dan faktor sosial ekonomi, sering menjadi pendorong keinginan bunuh diri,” tambahnya.

Masih menurut Kaltarina, mahasiswa sekarang memang lebih rentan depresi dibanding di masa lalu. Penelitian yang pernah dilakukan sebuah perguruan tinggi di Jakarta melaporkan bahwa sebanyak 30% responden merasa mendapatkan tekanan untuk bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu.

“Sebagian mahasiswa juga merasa dibebani perasaan bersalah ketika mengetahui orang tua telah mengeluarkan banyak uang untuk biaya kuliah, sementara untuk menyelesaikan skripsi ada saja rintangannya, dan tidak selalu mulus,” katanya.

Selain tekanan itu, media sosial juga diam-diam menjadi salah satu pemicu stres. Orang-orang yang sedang depresi, ketika melihat media sosial akan merasa bahwa fasilitas ini telah menjelma menjadi ajang pamer kesuksesan semata.

“Kesuksesan orang lain tidak menjadi motivasi, sebaliknya malah menjadi beban tambahan bagi para mahasiswa yang sedang tertekan,” katanya.

Menurut Kaltarina, orang yang memiliki gejala ingin bunuh diri harus segera diantisipasi dengan memberikan perhatian ekstra, berkomunikasi lebih banyak, dan mengajaknya lebih mendekatkan diri pada agama

 

 

 

Sumber : https://ruber.id