Ekonom Perkirakan Rupiah Menguat 2014

by -11 views

Ekonom Perkirakan Rupiah Menguat 2014

Jatinangorku.com – Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan memperkirakan nilai tukar rupiah akan menguat, yakni Rp10.000 per dolar AS pada semester kedua 2014. 

“Bisa tembus Rp12.000 sampai Rp13.000 dan akhir tahun ini kita perkirakan Rp11.500 per dolar AS, tapi untuk semester kedua tahun depan sekitar Rp10.000 per dolar AS,” katanya usai diskusi yang bertajuk “Indonesia-A primer on the Balance of Payments” di Jakarta, Selasa. 

Fauzi mengatakan, faktor penguatan rupiah tersebut akan semakin kuat jika pasar menyukai tim ekonomi setelah pemerintahan baru. 

“Tentunya yang reformis, tidak populis dan tidak politis,” katanya. 

Dia juga mengatakan, menguatnya rupiah tersebut didorong oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate), sehingga memperkecil defisit neraca transaksi berjalan dengan ditekannya inflasi. 

” Pasar akan merespon secara positif, sehingga akan menaikkan ekspor dan neraca perdagangan akan positif juga menaikkan neraca pembayaran. Kami yakin tahun depan rupiah menguat,” katanya. 

Fauzi juga memperkirakan neraca perdagangan akan surplus menjadi 14 miliar dolar AS ditambah dengan surplus “capital” dan financial “account balance” menjadi 21,5 miliar dolar AS dibandingkan akhir 2013 sebesar 13,7 miliar dolar AS. 

Dia juga memperkirakan neraca pembayaran akan surplus 1,5 miliar dolar AS pada 2014, dibandingkan neraca pembayaran 2013 yang mengalami defisit mencapai 12,3 miliar dolar AS. 

Sementara itu, Ekonom Standard Chartered Bank Eric Sugandi memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi mencapai Rp12.000 per dolar AS hingga kuartal ketiga 2013. 

“Potensi melemah masih ada sampai Rp12.000 per dolar AS sampai kuartal ketiga karena kita masih mengukur daya saing mata uang kita dengan mata uang negara lain,” katanya. 

Dia berpendapat jika faktornya hanya fundamental perekonomian, pelemahannya tidak akan tinggi. 

“Kalau hanya mengandalkan faktor fundamental, seharusnya `merosotnya` tidak tajam, berarti ada faktor sentimen,” katanya. 

Faktor sentimen tersebut, lanjut Eric, didorong juga faktor psikologis, yakni respon pasar yang cenderung panik. 

“Pasarnya `overactive` mendengar cadangan devisa kita turun tajam, inflasi naik, defisit neraca transaksi berjalan naik mereka panik

Sumber : http://id.berita.yahoo.com