Galian C Batu Andesit di Jatinangor Dikaji Ulang

by -251 views


 

JATINANGOR, (PRLM).- Dokumen Upaya Pemantauan dan Pengelolaan Lingkungan (UPL/UKL) galian C batu andesit PT Multi Marindo (MM) di Desa Cinanjung, Kec. Tanjungsari, tengah dikaji kembali disesuaikan kondisi terkini.

Hal itu, sehubungan lokasi penambangannya dekat dengan Perumahan Panorama Jatinangor sehingga menimbulkan dampak lingkungan terhadap warga perumahan.

Dampak lingkungan itu, di antaranya kebisingan aktivitas penambangan serta cipratan pecahan batu yang sesekali masuk ke rumah warga dampak peledakan (blasting) tebing.

Pengkajian UPL/UKL tersebut, salah satu hasil musyawarah sebelumnya dalam menyelesaikan persoalan dampak lingkungan galian C batu andesit PT MM yang diprotes warga perumahan.

Musyawarah itu dihadiri dinas terkait, perwakilan warga di luar perumahan dan warga perumahan, PT MM serta unsur muspika setempat.

Dari dinas terkait, yakni Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan (BPMPP), Badan Lingkungan Hidup (BLH) serta Dinas Pertambangan Energi dan Pertanahan Kab. Sumedang.

“Alhamdulillah, permasalahan dampak lingkungan galian C PT MM dengan warga perumahan, sekarang ada perkembangan ke arah penyelesaian. Upaya ini, hasil musyawarah bersama yang difasilitasi BPMPP, beberapa waktu lalu,” kata salah seorang perwakilan warga Perumahan Panorama Jatinangor, Haliman Abdul Gofur di kantor BMPPP Kab. Sumedang, Rabu (23/5).

Ia mengatakan, hasil musyawarah itu, salah satunya dokumen UPL/UKL galian C PT MM, perlu direvisi karena ada beberapa poin yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Dalam proses revisi tersebut, UPL/UKL-nya dikaji kembali sehingga bisa mengakomodasikan kepentingan masyarakat, khususnya warga perumahan.

Misalnya, pembuatan terasering dan tembok penahan tebing (TPT) guna mengantisipasi terjadinya longsor dari tebing yang mengancam perumahan warga.

“Kita akan terus mengawal pengkajian serta revisi UPL/UKL ini, termasuk dalam pelaksanaannya nanti,” tutur Haliman.

Hal senada dikatakan Kepala BPMPP Kab. Sumedang, Ir. Yosep Suhayat di kantornya. Ia mengatakan, musyarawarah itu menghasilkan beberapa poin, diantaranya PT MM harus membuat terasering serta tembok penahan tebing (TPT) untuk mengantisipasi longsoran tanah dan bebatuan dari tebing.

Selain itu, lokasi stone cruser (mesin pemecah batu) harus dipindahkan 200 meter dari lokasi semula supaya jauh dari perumahan. Begitu pula lokasi penambangan yang menggunakan bahan peledak (blasting), digeser 175 meter dari lokasi semula.

“Berbagai upaya ini merupakan syarat mutlak yang harus dilaksanakan oleh PT MM. Hal itu, guna mengantisipasi dampak lingkungan yang mengganggu warga perumahan. Kita memasilitasi persoalan ini, agar permasalahannya cepat selesai hingga ada kesepakatan bersama,” tuturnya.

Ia mengatakan, UPL/UKL galian C PT MM pun, harus direvisi karena tidak sesuai lagi dengan kondisi terkini, terutama lokasi penambangannya dekat perumahan.

“Respon perusahaan cukup baik dengan hasil musyawarah ini. Saat ini, PT MM sedang mengerjakan TPT. Bahkan perusahaan bersedia memberikan ganti rugi apabila ada kerusakan bangunan milik warga dampak blasting. Alhamdulillah, sekarang ada langkah-langkah penyelesaiannya,” tutur Yosep. (A-67/A-89)***

Sumber : pikiran-rakyat