Garam Impor Masuk, 1.000 Ton Garam Lokal Tidak Laku

by -20 views

Sedikitnya 1.000 ton garam hasil petani garam di Kabupaten Cirebon dan Indramayu menumpuk tak terjual. Ironisnya, ini terjadi di saat petani sedang menikmati harga tinggi. Menumpuknya stok garam petani terjadi menyusul masuknya garam impor.

Kalangan industri diduga menahan pembelian garam. Itu dilakukan karena mereka menunggu harga garam kembali murah seperti sebelumnya, menyusul masuknya garam impor.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat, M Taufik, harga penjualan dari petani pada sepekan lalu, mencapai Rp 3.200 per kg.

“Sebelumnya, selama dua pekan kami menikmati manisnya harga garam sampai Rp 3.500 per kg. Itu belum pernah kami alami seumur-umur menjadi petani garam,” katanya saat rapat koordinasi menyikapi kelangkaan garam, Selasa 15 Agustus 2017.

Menurut Taufik, kalau agenda rapat membahas kelangkaan garam, tentu sudah terlambat karena saat ini, produksi garam petani malah menumpuk tidak terserap akibat impor.

“Impor boleh-boleh saja karena memang harus impor untuk mencukupi kebutuhan garam nasional, namun waktunya diatur, jangan sampai pada saat petani panen,” katanya.

Menurut Taufik, hanya dua pekan menikmati manisnya harga garam, nasib petani kembali nestapa. “Baru juga musibah selama setahun ini tidak bisa produksi terobati, tiba-tiba masuk garam impor, sehingg garam kami tak terbeli,” katanya.

Rapat yang dipimpin Kabid Pengelolaan Sumber Daya Mineral Kementrian Koordinator Kemaritiman Hamka itu dilakukan untuk menghimpun masukan soal pergaraman. Selain mengundang petani garam, rapat juga menghadirkan Ketua Asosiasi Pengusaha Garam Indonesia (APGI) Jawa Barat Cucu Sutara, dan perwakilan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Harga garam terendah

Petani garam menduga, pembeli terutama kalangan industri menunggu harga garam terjun sampai pada titik terendah. “Masuknya garam impor dipastikan bakal merusak harga garam, yang saat ini sedang bagus,” kata Tasnan, petani garam asal Losari Kabupaten Cirebon.

Petani lain, Jafar mengaku sudah dua tahun ini tidak lagi bisa memproduksi garam. “Tahun lalu tidak memproduksi karena memang faktor cuaca yang kemarau basah, sehingga hampir semua petani juga mengalami nasib serupa. Tahun ini tidak produksi karena sudah tidak punya modal lagi,” tuturnya.

Dalam rapat tersebut petani minta pemerintah merevisi harga pembelian garam menjadi Rp 2.500 per kilogram. Pada kesempatan tersebut mencuat juga skema resi gudang sebagai salah satu solusi mengatasi persoalan klasik, fluktuasi harga dan pasokan garam baik karena faktor musim maupun impor.
Namun Ketua Asosiasi Pengusaha Garam Indonesia (APGI) Jabar Cucu Sutara, menyangkal kalau industri tidak menyerap garam petani.

“Mungkin saja ada petani yang garamnya tak terbeli. Namun tidak semua petani tidak terbeli, tergantung jaringan juga. Kalau jaringannya luas, ya pasti terbeli,” katanya.

Menurut Cucu, produksi garam dalam negeri masih jauh dari kebutuhan garam nasional yang mencapai  4,2 jut ton per tahun.

“Dari kebutuhan sebanyak 4,2 jut ton, produksi dalam negeri hanya 1,9 juta ton per tahun dari lahan seluas sekitar 26.024 ha,” katanya.

Terkait dengan rendahnya produksi garam, Taufik mengakui. Bahkan menurutnya produksi dipastikan akan semakin berkurang, karena lahan garam juga semakin berkurang dari tahun ke tahun akibat alih fungsi lahan

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com