Gotong Domba, Seni Tradisi Kiara Beres Jatinangor

by

jatinangorku.com – Di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, ada domba yang tak bisa diam. Kepalanya manggut-manggut digotong oleh empat orang serta diikuti oleh para pengiring yang menari dan memainkan musik. Inilah seni tradisi gotong domba yang berasal dari Kampung Kiara Beres, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Awalnya saya mengenal gotong domba dari Luthfi Adam, seorang teman yang juga dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Pada 17 Agustus 2009 ia menayangkan film dokumenter tentang pertunjukan seni gotong domba di tempat lahirnya seni ini: Kampung Kiara Beres.

Warga Kiara Beres umumnya menggantungkan hidupnya sebagai petani dan peternak domba. Baik domba pedaging maupun domba aduan dipelihara warga Kiara Beres. Sawah dan ladang terhampar di sini. Inilah ciri masyarakat agraris. Inspirasi seni gotong domba lahir dari keseharian mereka memelihara dan menggembala domba.

Media penting seni gotong domba adalah dua pasang arca domba (berwarna hitam dan putih) yang digotong oleh masing-masing empat orang. Gotong domba berbentuk seni helaran atau pawai. Menurut pencipta arca dombanya, Kang Ayeng, gotong domba melewati tiga tahap penciptaan.

Acara Agustusan diambil dari segi kehidupan masyarakat Kiara Beres. Bahwa pada waktu itu masyarakat Kiara Beres hampir 70 persen memelihara domba. Lalu timbul bagaimana kalau nanti untuk melengkapi kesenian Agustusan kira-kira harus bikin apa masyarakat Kiara Beres. Begitu kata Kang Ayeng (30/10/2009).

Saat itu sebelum 17 Agustus 2001, Kang Ayeng diserahi sebuah tugas membuat replika domba. Maka, jadilah bentuk arca domba tahap awal ini. Ketika itu, arca domba terbuat dari bambu yang dianyam. Badannya dilapisi karung goni, dan tidak digotong, tetapi ditarik. Di bawah badan arca domba diberi empat roda. Ada cerita menarik yang membuat masyarakat berpikir untuk menyempurnakan kesenian ini. Saat Agustusan 2001, arca domba rusak oleh seni kuda lumping yang melompat ke arah arca. Untuk itu, mereka berpikir bagaimana kalau arca domba ini digotong, tidak ditarik lagi. Bulu domba australia

Menjelang 17 Agustus 2003, Kang Ayeng menyempurnakan bentuk arca domba, hingga bentuknya seperti yang ada sekarang. Kepalanya terbuat dari tengkorak domba asli yang dilapisi busa. Badannya terbuat dari kayu pohon kemiri yang dilapisi bulu domba asli. Matanya terbuat dari kelereng, dan dibawa dengan cara digotong oleh empat orang.

Luthfi mengatakan, bulu domba yang digunakan untuk membungkus badan arca domba ini berasal dari bulu domba australia, bukan domba asli Kiara Beres. Alasannya, bulu domba australia lebih tebal dibandingkan dengan domba lokal sehingga hasilnya lebih sempurna dan tahan lama.

Seiring dengan penyempurnaan arca domba, beberapa warga menciptakan musik-musik pengiring dan tari-tarian khas untuk gotong domba. Musik pengiring disebut kawihan, yang terdiri dari dog-dog, kendang, gong, simbal. Alat musik tambahan berupa terompet serta diiringi oleh seorang sinden. Menurut Kang Ayeng, saat ini perkumpulan mereka tidak punya pemain terompet dan sinden. Akibatnya, mereka harus menyewa pemain terompet dan sinden jika ada panggilan “manggung” atau acara Agustusan.

Selain untuk acara Agustusan, gotong domba juga digunakan dalam acara khitanan. Biaya pertunjukan khitanan dipatok sekitar Rp 1,5 sampai Rp 2 juta. Biaya ini berlaku untuk orang luar yang meminta mereka memeriahkan acara khitanan, sedangkan untuk warga Kiara Beres tidak ada biaya sama sekali.

Gajah Muling merupakan perkumpulan gotong domba satu-satunya. “Kenapa gajah, Kang? Ini kan domba, bukan gajah,” tanya saya heran. Ternyata filosofinya terletak pada gerakan domba. Kang Ayeng mengatakan, gajah muling berarti tidak bisa diam. Artinya, domba selalu manggut-manggut dan bergerak ke kanan dan ke kiri. Kepala arca domba yang digotong selalu manggut-manggut tak bisa diam, mirip kepala kuda dalam kuda renggong. Tarian dan pemain musiknya juga mengikuti gerakan domba tersebut.

Sekarang, anggota perkumpulan Gajah Muling terdiri dari 32 orang, dengan ketua Kang Wawa, sekretaris Kang Rosadi, dan bendahara Kang Ayeng. Kang Wawa merupakan orang yang menciptakan lagu gotong domba dan mengkreasi musik, sedangkan Kang Rosadi mengkreasi tarian khasnya. Perkumpulan Gajah Muling memiliki kostum unik saat pentas, yaitu dengan kaus lengan panjang berwarna merah muda dan celana pangsi, selain juga ikatan pita merah di kepala mereka masing-masing.

Sekarang gotong domba memiliki lagu atau mars tersendiri, yang diberi judul sama dengan keseniannya, yaitu “Gotong Domba”. Penciptanya Kang Wawa. Ia menciptakan lagu ini sekitar tahun 2006. Menurut budayawan Jatinangor, Pak Supriatna, pada 27 April 2006 gotong domba diresmikan sebagai seni khas Jatinangor oleh Bupati Sumedang Don Murdono bersamaan dengan hari jadi ke-5 Jatinangor dan hari jadi ke-428 Sumedang. Peternak domba

Identitas warga Kiara Beres sekarang bukan saja dikenal sebagai masyarakat peternak domba, melainkan dikenal pula dengan seni tradisi gotong dombanya. Masyarakat Kiara Beres tidak secara kebetulan menciptakan kesenian ini. Kebanyakan seni tradisi lahir dari masyarakat agraris dan yang terbiasa melakukan interaksi dengan alam sekitar.

Contohnya saja rengkong yang tercipta oleh interaksi petani dengan alam. Awalnya seni ini digunakan sebagai penghormatan terhadap dewi kesuburan: Dewi Sri Pohaci. Kuda renggong, misalnya, tercipta dari interaksi manusia dengan seekor kuda. Begitu pula dengan gotong domba. Setiap hari mereka melakukan kontak dengan domba. Mungkin saja mereka berfilosofi saat sedang istirahat dari pekerjaannya di tepi ladang atau sawah. Interaksi mereka dengan domba menimbulkan pemikiran kreatif dalam bentuk seni gotong domba.

Kini Kiara Beres perlahan-lahan terdesak oleh pembangunan wilayah Jatinangor yang mengarah ke bisnis. Saat saya berkunjung ke sana, beberapa sawah dan ladang tempat mencari rumput untuk pakan domba-domba telah terbangun fondasi untuk perumahan modern. Bisa jadi suatu saat nanti lahan tempat mereka menggantungkan hidup akan sempit, bahkan mungkin habis.

Ada hal lain yang lebih penting dari itu, yaitu ciri khas mereka sebagai masyarakat peternak domba akan hilang. Dan mungkin saat lahan-lahan itu sudah habis, akar filosofi seni gotong domba yang lahir dari masyarakat peternak domba ikut hilang. Kang Ayeng sendiri yakin seni gotong domba akan tetap hidup walaupun lahan mencari pakan domba telah tidak ada lagi.

Pertanyaannya sekarang, mau dibawa ke mana selanjutnya kesenian ini? Mampukah kesenian ini bertahan di tengah transformasi sosial Jatinangor?

Sumber : FANDY HUTARI Penyuka Seni