Grup deVins: Rupiah Anjlok, Bisnis Kondotel Jalan Terus

by -13 views

Grup deVins: Rupiah Anjlok, Bisnis Kondotel Jalan Terus

Jatinangorku.com – Meski rupiah sedang terpuruk, Grup deVins, salah satu pemain properti masih optimistis dengan bisnis yang sedang dilakoninya. Dua bisnis kondotel yang saat ini digadang-gadang adalah kondotel di kawasan premium Seminyak, Bali dan kawasan Puncak, Bogor. Pilihan pada bisnis kondotel tak lain karena bisnis ini masih menjadi tujuan investasi yang memikat.

“Ini cocok untuk iklim investasi saat ini. Saya melihat pekerja, profesional, pegawai saat ini suka bingung di mana menaruh uangnya. Selain emas, properti saat ini menjadi pilihan, khususnya dalam bentuk kondotel,” kata Rony Surjana Widjaja, Direktur Grup deVins kepada Marketeers di Pameran Properti Indonesia, di Jakarta Convention Center, beberapa waktu lalu.

Meski rupiah sedang terpuruk seperti sekarang, Rony optimistis bisnis properti masih menunjukkan masa depan yang cerah. “Anjloknya rupiah ini pengaruhnya cukup besar. Tapi, saya percaya pada upaya pemerintah untuk mengatasi ini. Bahaya yang perlu diantisipasi adalah kenaikan harga bahan. Sementara,demand masih cukup stabil. Justru, banyak yang antusias untuk membeli properti. Seperti deVins Seminyak di Bali yang ROI memakai dolar dan justru menarik pelanggan,” kata Rony.

Rony menambahkan properti Indonesia boleh dibilang masih murah bila dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. “Di antara negara berkembang di Asia, properti Indonesia tergolong murah dan trennya akan terus naik. Sebab itu, investasi di bidang properti itu selalu menjanjikan,” kata Rony.

Investasi untuk membangun kondotel di Seminyak mencapai Rp 120 miliar. Sejak diluncurkan di Singapura, banyak ekspatriat yang berinvestasi di kondotel ini.  Kondotel di Seminyak menyediakan 110 unit di mana hanya 50 persennya saja yang dijual ke investor dan sisanya dikelola sendiri. “Di sana, ada 110 unit dan 50 unit saja yang kami jual. Di sana, pemasukannya sangat bagus karena dalam dolar AS dan tidak terganggu dengan naik turunnya rupiah,” kata Rony.

Pilihan lokasi Seminyak, sambung Rony, didasarkan pertimbangan akses dan sekaligus trafik wisatawan yang berkunjung di sana. “Kami senantiasa menyuguhkan tempat yang cocok bagi para profesional yang ingin menjalankan bisnis sekaligus untuk berwisata,” kata Rony.

Pada tahun ini juga, deVins mengembangkan kondotel baru di kawasan Puncak, Bogor. Pilihan ini sedikit berbeda dengan segmen di kawasan Seminyak yang premium. Meski demikian, Rony menyatakan  pengalaman yang sama tetap diusung oleh deVins di kondotel Puncak ini. Investasi untuk membangun kondotel ini sebesar Rp 100 miliar dengan 300 kamar dan dibangun di atas areal seluas empat hektare.

“Kami membidik mereka yang memiliki dana nganggur untuk investasi. Orang-orang Indonesia boleh dibilang cukup konsumtif dan hobi belanja. Pertumbuhan ekonominya cukup bagus. Ini peluang besar bagi kami,” kata Rony.

Rony sepaham bahwa bisnis properti harus memiliki karakter yang unik apalagi persaingan makin sengit saat ini. “Dari sisi bangunan, desain, kualitas, servis, sampai hospitalitasnya kami utamakan. Yang tidak kalah penting adalah komitmen. Setiap investor kami perlakukan seperti saya sendiri yang ingin berinvestasi,” kata Rony.

Komitmen yang dimaksud Rony tidak lain adalah transparansi, memenuhi janji secara tepat waktu, tidak mengecewakan pelanggan, fair, bisa dihitung, dan sebagainya. “Kami senantiasa mengupayakan se-fairmungkin dan open management,” kata Rony.

Dalam proses edukasinya, Rony mengatakan deVins selalu mengedepankan bisnis kondotel sebagai pilihan aman. Daripada para pelanggan, sambung Rony, membuka propertinya sendiri dengan banyak risiko, lebih baik uangnya diinvestasikan untuk properti yang sudah siap pakai. “Mereka juga kami ajari untuk mendapatkan pasive income dari bisnis ini,” kata Rony.

Ke depannya, deVins akan terus mengembangkan bisnisnya dengan melakukan ekspansi ke berbagai daerah. Rony menegaskan pertimbangan lokasi dan akses akan menentukan ekspansi ini akan dijalankan. “Kami tidak sembarangan membuka properti. Lokasi sangat penting. Kami membuka deVins di Bali dan yang terbaru di Puncak, Bogor, karena tujuan kami untuk kepentingan profesional yang ingin melakukan urusan bisnis sekaligus hangout,” kata Rony.

Rony menambahkan kriteria membangun properti tidak lepas dari tren perilaku pelanggan saat ini. “Selain lokasi, pelanggan saat ini sangat memperhatikan desain, konsep, maupun operator. Pertimbangannya sama dengan ketika orang mau membeli rumah, seperti lokasi dan akses,” kata Rony.

Rony mengatakan deVins akan melanjutkan ekspansinya. Belum lama ini, deVins menandatangani nota kerjasama dengan Golden Tulip, salah satu pemain properti global. “Benefit dari kerjasama ini bagi kami adalah untuk mengejar okupansi. Selain itu, kami juga ingin memiliki corak dan nuansa yang baru di hotel kami,” kata Rony.

Pada tahun 2014, karena ada pemilu presiden, deVins berhenti berkespansi sementara dan baru mulai lagi pada tahun 2015. “Pemilu biasanya suasananya panas dan bikin orang ragu-ragu untuk berinvestasi,” kata Rony.

Sumber : http://the-marketeers.com