Hitung Cepat Menyesatkan Masyarakat

by -29 views

Hitung Cepat Menyesatkan Masyarakat

Jatinangorku.com – Perkumpulan Aktivis Gerakan Djatinangor (Pager Djati) Kab. Sumedang menilai, banyaknya quick count (hitung cepat) pasca-pemilu presiden menyesatkan masyarakat luas. Pasalnya, banyak lembaga survei menunjukkan hasil penghitungan pilpres yang berbeda-beda.

“Hasil quick count itu dari hasil penghitungan yang diambil dari beberapa sampel suara pemilih pada pilpres. Paling sekitar 20.000 suara yang diambil,” kata Ketua Pager Djati Kab. Sumedang, Agus Bustanul Arifin, kepada “GM” di Jatinangor, Senin (14/7).

Menurut Agus, hasil hitung cepat itu membuat masyarakat bingung. Masyarakat diberi informasi menyesatkan.

“Saat ini, masyarakat tidak punya pilihan terhadap lembaga survei karena banyak lembaga survei yang tidak sama dalam hasil penghitungan pilpres,” katanya.

Dia menduga lembaga hitung cepat itu lebih mendahulukan sikap tendensius sehingga ada keberpihakan kepada salah satu capres yang disurveinya.

“Mestinya lembaga survei tidak boleh berpihak. Harus netral dan lebih mengutamakan kepentingan umum, bukan kelompok. Ternyata ada dugaan di lapangan, salah satu lembaga survei dimiliki tim relawan capres,” katanya.

Untuk menghindari keresahan masyarakat pada masa pemilu yang akan datang, Agus berharap lembaga survei yang melakukan hitung cepat dihilangkan saja. Karena menurutnya, keberadaan mereka sudah tak menguntungkan bagi masyarakat.

“Bahkan sejumlah pihak sudah menyatakan perlawanan untuk menghilangkan lembaga survei pada pelaksanaan pemilu,” katanya.

Ia juga berharap masyarakat jangan terlalu mempercayai hasil quick qount. Apalagi saat ini banyak lembaga survei yang melakukan hal serupa.

“Karena banyak lembaga survei, sehingga masyarakat harus memilih mana yang bisa dipercaya kebenarannya,” katanya.

Untuk itu, tambahnya, masyarakat lebih baik mengabaikan hasil hitung cepat. Untuk mengetahui hasil Pilpres 9 Juli 2014, masyarakat tinggal menunggu hasil rekapitulasi suara pilpres yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat pada 22 Juli mendatang.

Agus mengatakan, perbedaan hasil hitung cepat dapat menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat. “Soalnya di kalangan masyarakat ada dua pihak yang berbeda dukungannya. Padahal kita menginginkan situasi yang kondusif,” katanya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/