Importir Besar Kedelai Terindikasi Terlibat Kartel

by -14 views

Importir Besar Kedelai Terindikasi Terlibat Kartel

Jatinangorku.com – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan adanya indikasi bahwa importir besar kedelai terlibat dalam dugaan kartel kedelai. Komisioner KPPU, Munrokhim, mengatakan dari total 22 importir, ada beberapa importir besar yang diduga melakukan permainan dalam importasi kedelai.

“Ada beberapa yang besar seperti FKS (PT FKS Multi Agro) dan Cargill (PT Cargill Indonesia). Kalau yang besar-besar, tersirat bahwa perilaku mereka mengarah ke monopoli,” katanya pada Tempo di Jakarta, Ahad, 8 September 2013.

Munrokhim mengatakan indikasi tersebut masih sangat awal. KPPU kini masih menyelidiki perilaku seperti apa saja dari FKS dan Cargill yang dapat dikategorikan sebagai praktek monopoli.

Perilaku monopoli yang dikategorikan melanggar, kata dia, antara lain praktek importasi yang jelas merugikan importir yang lain dan penetapan harga yang terlalu tinggi. Menurut dia, jika perilaku importir besar tersebut terbukti melanggar UU KPPU dan melakukan monopoli, maka bukan tidak mungkin para importir besar tersebut diperkarakan seperti layaknya kasus kartel bawang putih.

Tapi, Munrokhim menegaskan investigasi dan penyelidikan yang dilakukan KPPU masih panjang. Penyelidik di lapangan pun, kata dia, masih terus mengumpulkan bukti yang menyimpulkan adanya dugaan praktek kartel yang berujung pada kenaikan harga kedelai yang tidak terkendali.

Dalam rapat dengar pendapat antara KPPU, beberapa importir, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian,dan Bulog, KPPU menemukan adanya indikasi awal praktek kartel pada impor kedelai yang berujung pada kenaikan harga. Selain itu, KPPU menyatakan pemerintah gagal menenangkan pasar sehingga pasar cenderung menahan stok kedelai dan berujung pada kenaikan harga kedelai.

Indikasi awal praktek kartel terlihat dari adanya data mengenai stok yang tidak sama antara beberapa kementerian serta produsen kedelai dan importir. Data stok kedelai di Kemendag dan beberapa instansi lain berbeda. “Yang dilaporkan tidak sama ini kan tanda tanya. Gampangnya kalau polisi melihat jawaban yang tidak sama antara satu pihak dan yang lain sudah pasti ada indikasi, permainan,” kata Munrokhim pekan lalu.

 

 

Sumber : http://id.berita.yahoo.com