Indonesia Belum Siap Dipimpin Orang Biasa

by -24 views

 

MENJELANG Hari Kemerdekaan yang ke-71 tahun RI, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah melihat bangsa Indonesia saat ini belum bisa dipimpin oleh orang biasa. Meski menurutnya, saat ini sistem dan struktur politik yang ada bisa membuat siapapun bisa menjadi pemimpin.

“Indonesia belum bisa dipimpin oleh orang yang biasa-biasa saja, meski struktur politiknya bisa siapa saja jadi presiden seperti Jokowi,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi kebangsaan di Pondok Pesantren Ath-Thoriq, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Selasa (9/8/2016) sore.

Menurut Fahri, bangsa Indonesia memang bangsa yang kaya, namun kekayaan yang didapat tidak beda halnya dengan orang yang kaya karena menerima warisan yang didapat dari menjual sumber-sumber kekayaan negara. 

Makanya, terang Fahri, di usianya yang saat ini telah mencapai 71 tahun, kesejahteraan dan tingkat pendidikannya bisa kalah dengan negara yang usianya lebih muda.

“Ini pertanyaan besar. APBN tambah banyak diatas Rp 2 ribu triliun, tapi tidak tahu beda antara kekayaan dan pembangunan. Siapa saja bisa jadi orang kaya, tapi menjadi berkembang atau membangun itu beda,” ucapnya dihadapan para aktivis di Garut yang jadi peserta diskusi.

Karena itu, Fahri melihat saat ini Indonesia memang belum bisa dipimpin oleh orang biasa-biasa seperti saat ini. Karena, akhirnya tidak ada perubahan karena pemimpinnya terlalu biasa dan tidak mampu menggerakan energi rakyatnya.

“Bangsa ini perlu pemimpin yang bisa membebaskan energi rakyatnya untuk bisa berdaulat dan mengambil hak-haknya,” tuturnya.

Fahri melihat, Pemilu yang akan ada di depan, pilihan-pilihan pemimpin pun akan ada di depan mata. Namun, menurutnya rakyat tidak akan memilih pemimpin yang seperti itu. 

“Karena alternatifnya yang ada juga tidak ada,” katanya.

Oleh karenanya, Fahri berharap generasi yang akan datang bisa muncul mereka-mereka yang punya kapasitas untuk jadi pemimpin bangsa yang bisa menjadi penyambung lidah dari perasaan dan kehendak masyarakat.

“Indonesia perlu rajawali yang terbang tinggi untuk mengangkat rakyatnya bangun dari kebodohan dan kemiskinan,” katanya.