Ini Pendapat Pakar Terkait Ridwan Kamil Melakukan Deklarasi Dengan Nasdem

by -76 views

PAKAR Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Karim Suryadi menilai, deklarasi Partai Nasdem yang mengamplifikasi pilihan Ridwan Kamil untuk bersaing merebut kursi Jabar satu, tidak bisa diabaikan dalam pasar politik. Walaupun untuk peluang  tergantung dari ikhtiar yang dilakukan oleh orang nomor satu di Kota Bandung tersebut.

“Soal peluang itu bergantung pada ikhtiar, Emil sudah punya modal yang cukup. Meski kekuatan utamanya di pasar politik Kota Bandung, namun warga Jabar cukup mengenalnya berkat jejak-jejak kepempinannya di Kota Bandung,” tuturnya saat melalui pesan Whatsapp kepada galamedianews.com, Kota Bandung, Minggu (19/3/2017).

Menurutnya, meski Ridwan Kamil tidak rajin menebar baliho, tapi warga dapat membaca track recordnya dari caranya menata manajemen pemerintahan, menata kota dan merespon persoalan warga. Dengan demikian, melalui kinerjanya telah berkampanye dan kunjungan warga Jabar ke Bandung adalah kampanye gratis.

“Bagusnya Emil tidak menujukkan nafsu berkuasa yang bergelora agar tampil apa adanya,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Politik dan Keamanan dari Unversitas Padjajaran (Unpad), Muradi menuturkan, dengan langkah dini Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil menerima pinangan untuk dicalonkan sebagai calon dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 akan berpotensi blunder politik. Lebih jauh, ada lima alasan yang menyebabkan terjadi kondisi tersebut.

“Pertama deklarasi tersebut akan membuat warga Kota Bandung merasa ditinggalkan karena masih sisa waktu kurang dari dua tahun. Kehadiran Ridwan Kamil pada deklarasi menyiratkan ambisi politik yang begitu mengebu-gebu,” ungkapnya.

Poin kedua dalam deklarasi tersebut juga secara eksplisit menutup ruang koalisi bersama dalam pengajuan Ridwan Kamil sebagai bakal calon gubernur 2018. Ditambah dengan hanya lima kursi di DPRD Jabar, keberadaan Nasdem tentu tidak akan bisa mengajukan sendiri dalam mengusung Ridwan Kamil.

Poin ketiga, Ridwan Kamil akan tersandera oleh kepentingan politik Partai NasDem, meskipun NasDem Menegaskan tetap membuka ruang bagi dukungan bersama. Tentu sebagai partai pertama yang mengusung dan mendeklarasikan akan memilih untuk membangun daya tawar politik kepada partai-partai politik lainnnya.

“Poin keempat, setelah deklarasi maka akan mengubah peta politik di Jabar, dimana sejak awal ditunggu oleh partai-partai politik yang menunggu waktu tepat. Sehingga bukan tidak mungkin akan membangun barisan yang lebih kokoh tapi pragmatis,”ujarnya.

Poin terakhir yakni karena adanya perubahan dalam peta politik Jabar, maka tentu berpotensi pada hasil survei juga akam mengubah hasil yang ada selama ini. Kalau sinisme menguat karena deklarasi yang terlalu dini, maka posisi Ridwan Kamil berpotensi akan goyah.

“Situasi ini jika dikelola dengan baik, maka nasib Ridwan Kamil akan sama seperti Dede Yusuf pada Pilgub 2013 yang secara sistematis tergeser terjun bebas dan kalah pada Pilgub 2013. Padahal Dede Yusuf sejak awal selalu memuncaki hasil survei,” tandasnya.