Insomnia Bisa Diatasi, Cari Penyebab Utamanya

by -14 views

Insomnia Bisa Diatasi, Cari Penyebab Utamanya

Jatinangorku.com – Berbagai terapi dilakukan untuk menyembuhkan insomnia. Tapi satu yang sering dilupakan yaitu, mencari sumber penyebabnya.

Banyak orang memamaki istilah insomnia untuk menyebut penyakit susah tidur. Padahal, insomnia hanya salah satu jenis dari sejumlah penyakit gangguan tidur.

Beberapa masalah tidur antara lain insomnia, narkolepsi, hipersomnia, apnea, sonambulisme, dan mimpi buruk.

Istilah insomnia memang cukup populer, karena di antara beberapa penyakit gangguan tidur, maka keluhan terkait gejala insomnia yang paling sering ditemui. Dengan upaya keras penderita insomnia punya kesempatan untuk sembuh.

Penderita insomnia tidak dapat tidur nyenyak dan mengalami penderitaan dalam kehidupan, karena biasanya saat menjelang tidur mereka akan merasa gelisah dan terus diteror. Sehingga dalam jangka panjang kondisi ini sangat mempengaruhi ritme kerja dan kehidupannya.

Berdasar kondisi di atas, gangguan insomnia pun dikategorikan ke dalam tiga jenis. Yaitu susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia).

Seperti dilansir Genius Beauty, di Amerika Serikat insomnia menjadi isu kesehatan paling penting. Sekitar 30% populasi orang dewasa di Amerika yang berusia 25 ke atas mengkonsultasikan masalah tidurnya kepada dokter.

Sementara, riset internasional yang dilakukan US Census Bureau yang mengacu pada International Data Base tahun 2004 menemukan, terdapat 28 juta orang atau 11,7% penduduk di Indonesia mengalami insomnia. Sepuluh tahun terakhir diperkirakan, persentasenya terus meningkat.

Banyak di antara penderita insomnia memilih terapi dengan mengonsumsi obat tidur. Meski mereka tahu terapi obat kimia seperti ini bukanlah solusi yang bisa menimbulkan ketergantungan.

Pemakaian obat tidur dalam jangka panjang tentu, berefek buruk bagi kesehatan. Sebab semua obat sedatif seperti obat penenang, memiliki potensi menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan, mereka tidak dapat tidur tanpa mengonsumsi obat-obat tersebut.

Paling awal perlu dilakukan seseorang untuk mengatasi insomnia, yaitu menyadari dirinya mengalami insomnia. Lakukan analisa, gangguan insomnia jenis apa yang dialami. Kemudian, yang paling penting adalah mencari penyebab utama insomnia.

Psikiater di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang, dr Andri SpKJ seperti dilansir Nationalgeographic.co.id mengatakan, insomnia ada yang hanya sesaat (transient insomnia) dan insomnia menetap (persistent).

Insomnia sesaat biasanya disebabkan rasa kehilangan, berduka, perubahan kehidupan, dan stres fisik maupun mental. Kondisi seperti ini biasanya tidak berbahaya dan dapat segera kembali normal.

Sedangkan insomnia menetap ditandai kesulitan memulai tidur, karena kecemasan atau ketegangan somatik atau fisik. Pikiran yang terus berkecamuk menjelang tidur menjadi pemicu timbulnya kondisi ini.

“Kesulitan memulai tidur karena kondisi medis seperti rasa nyeri atau tidak nyaman yang ditimbulkan suatu sakit, adanya luka di sistem saraf pusat otak seperti pada pasien stroke. Bisa juga karena gangguan kejiwaan atau lingkungan seperti kecemasan, perubahan lingkungan, tekanan ketika akan menghadapi ujian hidup,” jelasnya.

Penderita insomnia yang sulit mempertahankan tidurnya juga bisa disebabkan kondisi medis, seperti sindrom henti napas saat tidur (sleep apnea), adanya penyakit infeksi, rasa nyeri dan tidak nyaman karena penyakit, serta konsumsi alkohol berlebihan

Sumber : http://www.inilahkoran.com/