Investor Tiongkok Tanamkan Modal di Bandara Internasional Jabar

by -69 views
Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih terus melihat perkembangan pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang rupanya sangat memikat minat banyak pihak untuk berinvestasi di sana baik dari dalam ataupun luar negeri.
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, berdasarkan informasi terakhir yang diterima Pemprov Jabar, pihak BPJS turut menanamkan modalnya di bandara yang dibangun di Kabupaten Majalengka itu.
Selain itu, Deddy menuturkan investor asal negeri Tiongkok juga direncanakan akan ikut menanamkan modalnya melalui Kementerian BUMN.
“Ya, kita lihat saja bagaimana perkembangannya. Yang terpenting kan sekarang pembangunan terus berjalan,” kata Deddy kepada wartawan ditemui di Bandung, Rabu (5/4/2017).
Deddy melanjutkan, dengan banyaknya pihak investor yang telah dan akan masuk maka pengelolaan bandara yang diproyeksikan lebih besar dari Bandara Soekarno-Hatta itu harus dibahas secara bersama.
Menurutnya, masih terlalu dini jika ingin membahas pengelolaan bandara karena proses pembangunannya pun masih jauh dari kata rampung.
“Ya, itu karena ada beberapa pihak yang masuk maka pengelolaannya harus dibahas duduk bersama. Yang terpenting sekarang adalah Jawa Barat musti punya bandara dulu,” ujar Deddy.
Kehadiran bandara internasional di Jawa Barat, kata Deddy, merupakan gerbang untuk kemajuan ekonomi terutama bagi wilayah yang ada di sekitar BIJB selain Majalengka seperti Indramayu, Cirebon, Kunang, dan Subang.
Selain itu kabupaten/kota di Jawa Tengah pun seperti Brebes dan Tegal diyakini turut kecipratan tuah positif BIJB karena jaraknya lebih dekat ke Majalengka daripada ke Bandara Internasional Ahmad Yani di Semarang.
BIJB selain fungsi utamanya untuk embarkasi haji Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, juga akan menjadi pintu masuk para wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin berkunjung ke Jabar.
Selama ini kendala utama kunjungan wisatawan ke Jabar adalah minimnya akses ke destinasi wisata karena kurangnya sarana dan prasarana.
“Objek wisata tidak akan menjadi destinasi wisata kalau tidak didukung sarana-prasarana yang memadai,” ujar Deddy.