Jabar Akan Dirikan Lembaga Pemantau Bencana Alam

by -73 views

Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mendirikan lembaga yang bertugas untuk memantau pergerakan bencana alam.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menuturkan keberadaan lembaga ini sangat penting mengingat tanah Pasundan merupakan provinsi yang paling rawan terjadi bencana di Indonesia.

Pemprov Jabar juga akan meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait seperti Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi bencana alam. Sehingga ke depannya di kedua belah pihak akan memiliki laporan-laporan terkait mitigasi bencana secara berkesinambungan dan saling melengkapi.

“Kami pun akan menyiapkan kelembagaan tersendiri beserta sumber daya manusianya yang bertugas untuk memantau pergerakan kemungkinan bencana di Jawa Barat,” kata Aher saat ditemui di sela-sela jamuan dengan atlet pemecah rekor Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016 di Hotel Ibis Trans Studio, Bandung, Jumat (21/10/2016).

Pria yang akrab disapa Aher ini akan terus menggerakkan jajarannya untuk terus menyosialisasikan pentingnya mitigasi bencana kepada warga yang tinggal di daerah-daerah yang sangat rawan terjadi bencana alam seperti di Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Sumedang.

Sosialisasi ini diharapkan akan menjadi bekal para warga pada saat alam menunjukkan gejala-gejala awal bencana sampai titik yang paling rawan, sehingga mitigasi bencana dapat berjalan dengan lancar dan jatuhnya korban jiwa pun dapat diminimalisasi.

“Tentu ketika gejala-gejala bencananya sudah sangat rawan maka akan kami evakuasi secara paksa. Kalau masih gejala-gejala awal maka akan kami imbau mereka untuk mengevakuasi diri sendiri dengan hati-hati,” ujar Aher.

Badan Geologi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga sudah mewanti-wanti empat daerah di Jawa Barat yang secara historis sering dilanda bencana alam. Keempat daerah itu adalah Garut, Sukabumi, Sumedang, dan Tasikmalaya yang harus diwaspadai dalam waktu dekat dan jangka panjang.

Kepala Badan Geologi Ego Syachrial mengatakan, jajaran pemerintah daerah di Jawa Barat baik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota saat ini harus betul-betul mengambil sikap waspada dan mempersiapkan mitigasi bencana secara matang terhadap keempat kota tersebut karena pergerakan tanah dan perubahan cuaca ekstrem sering terjadi akhir-akhir ini.

Ego mengatakan, selain pergerakan tanah dan perubahan cuaca yang sangat ekstrem, tingginya aktivitas masyarakat di Garut, Sukabumi, Sumedang, dan Tasikmalaya – seperti bertanam di dataran miring – juga menjadi penyebab terjadinya bencana alam. Maka dari itu aktivitas tersebut harus segera dihentikan untuk mencegah banyaknya warga yang menjadi korban.

“Secara logika, Garut merupakan daerah yang paling berbahaya. Karena di sana pegunungannya ada, lembahnya juga ada, dan aktivitas manusianya semakin meningkat dari tahun ke tahun,” kata Ego kepada wartawan saat ditemui di kantornya