Jabar Tidak Butuh Impor Beras

by -28 views
Jawa Barat dinilai tidak membutuhkan beras Impor yang diwacanakan oleh Pemerintah Pusat didatangkan dari Thailand dan Vietnam. Produksi beras di Jawa Barat dinilai mencukupi kebutuhan rata-rata konsumsi masyarakat.
 
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat Hendi Jatnika mengatakan, setiap tahun, Jawa Barat masih konsisten menghasilkan beras hingga 12,5 juta ton dari sekitar 900 ribu lahan produktif yang tersedia. Jumlah itu sudah termasuk catatan surplus sebanyak 3 juta ton.
 
“Dengan 46 juta penduduk, konsumsi berasnya katakanlah hitungan kasarnya (sebulan) 90 kg perorang, produksi kita masih aman. TIdak perlu impor,” kata Hendi saat dihubungi, Selasa (16/1).
 
Apalagi kata Hendi, per Januari ini, sudah lebih dari 100 ribu hektare sawah di sejumlah daerah di Jawa Barat yang sudah masuk musim panen. Jumlah tersebut akan terus meninhkat pada bulan-bulan berikutnya.
 
Pihalnya pun menolak kebijakan impor yang dicanangkan Pemerintah Pusat, karena untuk produksi terendah di Januari ini saja masih surplus dengan kebutuhan beras bulanan Jabar.
 
“Kalau (impor) kami menolak. Tiap hari di Jabar sudah ada yang panen. Per Januari sudah ada 100 ribu ha sawah yang panen. Ada yang 20 ha di Tasik, Garut, kab Bandung,” katanya.
 
Ia pun menjelaskan, ketersediaan lahan produktif, Jatnika menyebut Jabar memiliki 920 ribu hektare sawah. Yang terbesar tersebar di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Bandung, Tasikmalaya dan Garut sebagai lumbung padi.
 
Meskipun ia mengakui masih terjadi alih fungsi lahan produktif, namun ia memastikan jumlah lahan produktif yang mengalami alih fungsi lahan tidak sampai mempengaruhi peroduktivitas padi.
 
“Alih fungsi pasti ada, untuk pembangunan, tidak bisa dipungkiri. Karena, Jabar perlu area industri, perumahan baru. Sebagian ada yang membuat dari lahan produktif,” katanya.
 
Pengurangan lahan itu masih diambang normal. Dalam tiga tahun terakhir sudah ada sekitar 1.000 ha lahan produktif yang berubah. Namun, itu akan diakali dengan program pertanian pangan berkelanjutan, yakni strategi meningkatkan produksi agar tetap di kisara 12,5 juta ton pertahun.
 

Selanjutnya, terkait harga beras yang melonjak dalam beberapa pekan terakhir, itu ada di wilayah tata niaga. Tim dari satgas pangan harus menelusuri penyebab utamanya kenaikan harga besar di pasaran. 

 

 

 

Sumber : http://www.inilahkoran.com